23-Juni-KWI-R-702x336

PEKAN BIASA XII (H)

Santa Emma, Santo Cyrilus dari Alexandria

Bacaan I: Kej. 13:2.5-18

Mazmur: 15:2-3ab.3cd-4ab.5; R:1a

Bacaan Injil: Mat. 7:6.12-14

Dalam khotbah di bukit Yesus berkata: ”Jangan kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing dan jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada babi, supaya jangan diinjak-injaknya dengan kakinya, lalu ia berbalik mengoyak kamu.”

”Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi. Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.”

Renungan

Menentukan panggilan hidup berarti menjatuhkan pilihan yang sering kali tidak selalu enak. Itulah yang terjadi pada Abraham dan Lot. Menghindari pertengkaran, mereka berpisah baik-baik. Abraham memberikan kesempatan pertama kepada Lot untuk memilih tempat tinggalnya. Abraham mengalahkan dirinya untuk tidak mencari kesenangan dirinya lebih dahulu. Lot memilih Lembah Yordan, Abraham tinggal di Kanaan.

Tidak mencari enak sendiri adalah cara hidup yang diajarkan Yesus. Sabda-Nya: ”Segala sesuatu yang kamu inginkan orang lain perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada orang lain” (Mat. 7:12). Ajaran ini merupakan isi hukum Taurat dan kitab para nabi. Jalan emas ini dikatakan juga oleh penulis Romawi, Seneca: ”si vis amari, ama,” artinya kalau engkau ingin dicintai, maka cintailah dulu orang lain. Cinta tentu menuntut pengurbanan. Tanpa pengurbanan diri, tak mungkin kita hidup damai dan bahagia. Inilah juga yang menjadi pengalaman kita dalam keluarga dan kerja. Bila kita menempuh jalan kehidupan, jalannya memang ”sempit.” Itulah jalan salib. Tetapi, jalan ini pula yang mengarah ke kebahagiaan. Yesus sendiri telah mengalaminya: kebangkitan hanya terjadi lewat salib.

Hari ini kita memperingati St. Ireneus, seorang uskup di Lyon (Perancis) dan martir pada abad kedua. Ireneus tidak mencari enak sendiri. Dia mengurbankan dirinya demi ajaran yang benar. Dia melawan ajaran bidah Gnostik pada waktu itu, yang ditulisnya dalam bukunya ”Adversus Haereses.” Hidup dan kegembalaannya penuh pengorbanan diri dan itulah yang mengantarkannya kini hidup bahagia di surga. Jalan hidup kita pun tidak selalu enak, tetapi harus kita tempuh karena itulah jalan menuju kebahagiaan.

Ya Tuhan, tolonglah aku untuk bisa hidup damai dengan orang lain, dengan berani mengurbankan diriku dan tidak mencari kesenangan diri sendiri. Amin.

Renungan Ziarah Batin 2017

 

Tinggalkan Pesan