Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang Pastor Aloys Budi Purnomo Pr (kedua dari kanan)
Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang Pastor Aloys Budi Purnomo Pr (kedua dari kanan)

“Mari kita jadikan Tanah Air Indonesia, Negeri dan Bangsa kita, sebagai “rumah kita bersama”, tempat tinggal bagi seluruh anggota keluarga warga bangsa dalam mewujudkan peradaban kasih bagi masyarakat Indonesia yang sejahtera, rukun, bermartabat dan kian teguh beriman, apa pun agamanya. Selamat Hari Raya Idul Fitri. Semoga segala kesalahan kita dilebur pada Hari Raya ini dan kita mampu merajut kehidupan baru yang damai.”

Demikian Press Release Ucapan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1438 Hijriah/2017 Masehi kepada Para Ulama, Pemimpin dan Seluruh Umat Islam yang dikeluarkan Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang (Kom HAK KAS) dan ditandatangani ketuanya Pastor Aloys Budi Purnomo Pr, 22 Juni 2017.

Ucapan selamat kepada para Ulama, Pemimpin dan Seluruh Umat Islam di Indonesia disampaikan oleh Pastor Budi Purnomo atas nama Uskup Agung Semarang Mgr Robertus Rubiyatmoko, Kuria, Umat dan Gereja Katolik KAS yang juga merayakan ulang tahun ke-77 pada hari Idul Fitri 25 Juni 2017.

Dalam siaran pers itu Pastor Budi Purnomo mengutip pesan Dewan Kepausan untuk Dialog Antarumat Beragama sebagaimana disampaikan dari Vatikan, 19 Mei 2017, oleh ketua dan sekretaris dewan itu, Jean-Louis Kardinal Tauran dan Uskup Miguel Angel Ayusi Guixot.

Tahun ini, tulis pesan itu, dewan kepausan itu menawarkan tema yang berkaitan dengan Ensiklik Paus Fransiskus Laudato Si’ tentang Perawatan Rumah Kita Bersama, yang ditujukan tidak hanya untuk umat Katolik dan Kristen, tetapi juga seluruh umat manusia.

Paus Fransiskus, lanjut pesan itu, mengajak umat memperhatikan “bahaya yang disebabkan oleh gaya hidup dan keputusan kita terhadap lingkungan, terhadap diri kita dan terhadap sesama kita.” Dunia, lanjut Paus,  adalah ‘rumah bersama’, tempat tinggal seluruh anggota keluarga manusia. Maka, “tak ada orang, negara atau bangsa yang dapat memaksakan secara eksklusif pemahaman mereka akan planet kita.”

Untuk itu, dibutuhkan “pendidikan, keterbukaan rohani dan pertobatan ekologis yang mendunia untuk mengatasi tantangan ini secara memadai,” dan sebagai orang percaya, lanjutnya, “hubungan kita dengan Allah seharusnya semakin diperlihatkan dengan cara berhubungan dengan dunia sekitar.” Ditegaskan, panggilan untuk menjadi penjaga hasil karya Allah tidak bersifat manasuka, juga tidak menyinggung komitmen rohani umat Kristen dan umat Muslim, melainkan “bagian terpenting” dari komitmen itu.

Sebagaimana disampaikan Kardinal Tauran, Kom HAK KAS berharap “semoga wawasan dan berkat rohani yang mengalir dari puasa, doa dan karya-karya yang baik mendukung Umat Islam, dengan pertolongan Allah, di jalan kedamaian dan kebaikan, merawat seluruh anggota keluarga manusia dan seluruh ciptaan. … Kita juga mengharapkan ketenangan, sukacita dan kesejahteraan.”

Pastor Budi Purnomo menjelaskan, dalam sejarah hubungan antara Gereja Katolik dan Umat Islam di seluruh dunia, ucapan selamat seperti tahun 2017 memasuki usia emas. 50 tahun lalu, dewan yang dibentuk Paus Paulus VI itu untuk pertama kali mengirimkan pesan dan ucapan Selamat Hari Raya Idul Fitri secara resmi dan tertulis.

Selanjutnya, tulis siaran pers itu, Paus sesudah Paus Paulus VI terus mempertahankan tradisi itu hingga hari ini. “Bahkan Paus Yohanes Paulus II dan Paus Fransiskus menulis pesan dari tangannya dan langsung ditandatangani sendiri, masing-masing berjudul ‘Jalan Kaum Beriman Adalah Jalan Damai’  (1991) dan ‘Memajukan Penghormatan Timbal Balik Melalui Pendidikan’ (2013).”

Karena alasan itu, Komisi HAK KAS mensyukuri lima puluh tahun Ucapan Selamat Hari Raya Idul Fitri yang dilakukan Gereja Katolik kepada Umat Islam di seluruh dunia secara resmi dan tertulis, kata Pastor Budi Purnomo seraya menambahkan bahwa “di Indonesia sejarah mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri dilakukan secara langsung dalam silaturahim penuh persaudaraan dan kerukunan, tak hanya di kalangan para pemimpin melainkan juga di tingkat akar rumput.”(pcp)

Tinggalkan Pesan