soe_hok_gie

 

Soe Hok Gie, yang dimiliki bangsa Indonesia dan Gereja Katolik Indonesia, adalah sosok yang tidak jauh berbeda dengan Santa Theresia dari Lisieux. “Santa Theresia dari Lisieux dan Soe Hok Gie memiliki daya kritis dan keberanian yang sama. Santa Theresia dari Lisieux berteriak tentang ketidakadilan dari balik tembok biara, sedangkan Soe Hok Gie berteriak dengan terjun langsung ke tengah masyarakat dan ikut merasakan apa yang sedang dialami oleh bangsa dan rakyat Indonesia waktu itu.”

Rektor Universitas Katolik Widya Karya (WK) Malang Pastor Albertus Herwanta OCarm berbicara dalam acara nonton bareng (nobar) film Soe Hok Gie di halaman tengah kampus WK, Sabtu 17 Juni 2017 sekitar pukul 18.30 WIB.

Kedua sosok itu “sungguh luar biasa,” kata Pastor Albert seraya menantang apakah yang hadir menonton malam itu mampu melawan ketidakbenaran dan ketidakadilan dengan berpikir kritis dan bersuara lantang untuk melawan.

Soe Hok Gie adalah aktivis Indonesia Tionghoa yang menentang kediktatoran berturut-turut dari Presiden Soekarno dan Soeharto. Mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Indonesia Jurusan Sejarah tahun 1962-1969 itu lahir di Jakarta, 17 Desember 1942 dan meninggal 16 Desember 1969. Aktivis Katolik dan penulis produktif yang terkenal dengan “Catatan Seorang Demonstran” itu dimakamkan di Museum Taman Prasasti, Jakarta.

Menurut Pastor Albert, film itu diangkat dari catatan-catatan harian Soe Hok Gie atas kejadian-kejadian yang terjadi di tanah air waktu itu, sehingga sangat layak untuk ditonton oleh semua mahasiswa-mahasiswi Indonesia khususnya mahasiswa-mahasiswi Katolik, agar dapat meningkatkan daya kritisnya.

“Dalam film Soe Hok Gie, ada idealisme bernyala-nyala yang harus disambut dan dilanjutkan oleh seluruh mahasiswa-mahasiswi Katolik Indonesia. Dengan kehadiran sosok dalam film ini, kita masing-masing akan refleksi, melihat diri sendiri, apakah sudah berpikir kritis atau belum, apakah sudah berani menentang yang salah dengan idealisme kritis atau belum. Ataukah kita takut bersuara kritis dan berani akan segala sesuatu yang tidak benar?” tanya Pastor Albert.

Dijelaskan, visi dan misi politik mahasiswa Katolik zaman Soe Hok Gie dengan zaman ini jauh berbeda. “Zaman Soe Hok Gie merupakan zaman sangat berat, sedangkan zaman ini, dibuat biasa-biasa saja karena yang benar dibilang salah, dan yang salah dibilang benar. Lebih parah lagi, mahasiswa-mahasiswi Katolik zaman ini lebih terlena dan diam, tidak berani berpikir kritis dan bersuara atas ketidakbenaran, hanya ‘bermain’ aman dan nyaman.”

Lesly Sitohang dari Divisi Litbang WK mengatakan kepada PEN@ Katolik bahwa diharapkan dengan nobar itu mahasiswa-mahasiswi Katolik tidak takut bersuara atas ketidakbenaran dan ketidakadilan serta mampu berpikir kritis melihat situasi dan kondisi bangsa Indonesia yang makin runyam belakangan ini. “Forum kecil ini akan sangat berpengaruh untuk melahirkan sosok Soe Hok Gie yang baru dengan keberanian dan kekritisan yang baru, serta kemauan membaca dan menulis,” katanya.

Dosen pengampu mata kuliah hukum di universitas itu Ignatius Arga mengatakan, nobar film Soe Hok Goe mendorong dan mengajak semua mahasiswa-mahasiswi Katolik di kampus WK untuk terlibat aktif dalam diskusi dan penulisan, “agar daya kritis meningkat, karena sesungguhnya daya kritis mahasiswa-mahasiswi diperoleh dengan banyak membaca.”

Unit Kreatifitas Mahasiswa (UKM) WK, yang sedang bergiat mencari sosok-sosok yang sungguh-sungguh berisi, menyambut baik nobar itu, karena yakin acara itu akan melahirkan mahasiswa-mahasiswi yang berpikir kritis dan berani karena rutin membaca buku. (FelixianusAli/Andre Kukun)

 Rektor Universitas Katolik Widya Karya Malang ikut nonton

Romo Albertus Herwanta, O.Carm selaku Rektor Universitas Katolik Widya Karya Malang (1)
Rektor Universitas Katolik Widya Karya (WK) Malang Pastor Albertus Herwanta OCarm

Tinggalkan Pesan