Tasyakuran (7)

Mgr Robertus Rubiyatmoko merasakan bahwa kehadirannya sebagai Uskup Agung Semarang sungguh-sungguh disambut dan diterima oleh semua lapisan masyarakat dengan sukacita, tanpa membedakan agama, suku dan segala macamnya. “Bagi saya itu merupakan suatu anugerah yang sangat luar biasa. Bagi saya, itu merupakan berkah yang sangat istimewa.”

Mgr Rubiyatmoko yang ditahbiskan di Semarang tanggal 19 Mei 2017 itu berbicara dalam acara Tasyakuran Uskup Baru Keuskupan Agung Semarang, yang dihadiri lebih dari 100 tokoh masyarakat dan tokoh dari berbagai agama, di Semarang, 5 Juni 2017.

Uskup agung yang baru itu menyadari bahwa menjadi uskup merupakan perutusan yang sangat mulia, “namun perlu tanggung jawab luar biasa.” Uskup agung juga menyadari kekurangan dirinya, maka “kebersamaan dengan semua umat beriman yang ada di Indonesia, khususnya di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sungguh merupakan sesuatu yang tidak mungkin tidak harus terjadi.”

Dalam acara yang diselingi penampilan kesenian itu, uskup kelahiran Yogyakarta itu mengatakan senang dan bangga atas kebersamaan umat beragama sungguh-sungguh sangat nampak, sangat nyata dan berkembang dari waktu ke waktu di Jawa Tengah dan DIY.

“Hasilnya sangat nyata, bagaimana masyarakat kita selama ini hidup dalam suasana penuh kedamaian, penuh kerukunan, saling tolong-menolong, saling bahu-membahu. Inilah kiranya yang bagi saya sangat membanggakan, menjadi modal dasar bagi masyarakat Indonesia untuk membangun kebersamaan masyarakat yang damai, yang harmonis, yang sungguh-sungguh menyatu sebagai satu saudara,” kata Mgr Rubiyatmoko.

Namun, prelatus itu menyadari dan prihatin akan situasi bangsa Indonesia akhir-akhir ini, yang sedang dirongrong oleh berbagai macam kepentingan kelompok tertentu yang ingin memecah belah rakyat Indonesia. Maka, ia menyampaikan kepada para tokoh agama dan masyarakat bahwa Gereja ingin merangkul siapa saja untuk bersama-sama menciptakan masyarakat yang padu.

“Gereja yang inkulsif, yang melibatkan siapa saja, semuanya saja, tanpa membeda-bedakan diri, harapannya menjadi jalan masuk untuk nanti menciptakan masyarakat yang inovatif, masyarakat yang penuh pembaharuan terus-menerus dengan berbagai macam hal yang baru demi perkembangan masyarakat kita,” kata uskup seraya mengajak semua yang hadir untuk bersama-sama menggalang kekuatan, karena sejak semula bangsa Indonesia terbentuk, terbangun dalam keanekaan, dalam kebhinekaan.

Mgr Rubiyatmoko berharap nilai-nilai Pancasila hidup kembali, mekar kembali dan akhirnya “bukan hanya menjadi slogan namun, sungguh-sungguh menjadi way of life, menjadi cara kita hidup, cara bertingkah laku sebagai warga masyarakat, warga Indonesia.”

Kesan dan harapan bagi bangsa dan bagi uskup agung baru itu juga diungkapkan oleh para tokoh agama. Pengasuh pondok pesantren Al Ishlah Meteseh Semarang Kiai Budi Harjono mengatakan, Indonesia laksana orkestra yang hanya bisa dimainkan bersama-sama. Sedangkan budayawan Tionghoa Haryanto Halim mengatakan, Indonesia merupakan melting pot yang sudah jadi, yang sudah matang, sehingga “siapapun yang mencoba ‘menggoyang’ akan terlindas sendiri dengan keberagaman yang ada di Indonesia.”

Banthe Cattamano dari Vihara Tanah Putih berharap Mgr Rubiyatmoko bisa memimpin Gereja Katolik supaya bisa maju, lahir maupun batin, “dengan meneladani ajaran-ajaran yang baik dan mulia dari para pendahulu guna mempertahankan kebersamaan, kebhinekaan, dan tetap mempertahankan NKRI.”

Kolaborasi penampilan seni juga terjadi malam itu. Saat Ubadillah Acmad membaca puisi, Pastor Aloys Budi Purnomo Pr memainkan saksofon dan empat penari sufi menari.(Lukas Awi Tristanto)

Tasyakuran (6)

Tasyakuran (3)

Tasyakuran (5)

Tasyakuran (4)

Tasyakuran

 

 

 

Tinggalkan Pesan