Mgr-Hubertus-Leteng_01

Aksi protes sekelompok imam 12 Juni 2017 yang menyatakan pengunduran diri dari jabatan sebagai vikaris episkopal dan kepala paroki, dijawab oleh Uskup Ruteng Mgr Hubertus Leteng kepada Sekretaris Eksekutif Komisi Komsos KWI Pastor Kamilus Pantus Pr lewat WA tanggal 14 Juni 2017 dengan mengatakan, “Sebagai Uskup, saya tidak menghendaki mereka mengundurkan diri dari jabatan karena mereka adalah orang yang t.”

Jika mereka mengundurkan diri, lanjut Mgr Hubertus Leteng, seperti yang dilaporkan Pastor Kamilus Pantus dalam web KWI www.mirifica.net, 14 Juni 2017, hal itu akan sangat merugikan umat Allah yang membutuhkan pelayanan para imam. “Tapi jika mereka mati-matian mau mengundurkan diri, maka saya berharap mereka telah mempertimbangkan hal itu secara bertanggungjawab di hadapan Tuhan.”

Uskup itu sangat menyesalkan persoalan internal Gereja itu diekspose ke ruang publik. “Pemberitaan seperti ini memprovokasi reaksi mayoritas umat, khususnya di Keuskupan Ruteng, termasuk sebagian besar imam yang dengan setia menjalankan tugas pelayanan pastoralnya,” tegas Mgr Hubertus Leteng.

Di akhir pesannya, Uskup mengakui bahwa “Sebagai Uskup saya sadar saya juga manusia lemah. Ada banyak hal yang perlu dibenahi dan diperbaiki. Namun saya mengajak para imam, termasuk yang berencana untuk undur diri, bersama sama bergandengan tangan membangun Keuskupan Ruteng ini.”

Pernyataan uskup itu membalas pertanyaan Pastor Kamilus Pantus tentang pernyataan sikap uskup itu untuk dipublikasikan di mirifica.net, karena banyak pertanyaan diterima imam itu menyusul datangnya sekitar 60 imam dari 4 kevikepan Keuskupan Ruteng ke kediaman uskup guna menyampaikan aspirasi mereka.

Mewakili para imam itu, beberapa anggota kuria dan pastor paroki diperkenankan bertemu Mgr Hubertus Leteng dalam pertemuan 12 Juni 2017 pukul 17.00 WITA itu. Saat itu, menurut penjelasan Sekretaris Jenderal Keuskupan Ruteng Pastor Agustinus Menfred Habur Pr dalam konferensi pers, “menjadi kesempatan bagi perwakilan para imam menyampaikan aspirasi pembaharuan hidup Gereja Keuskupan Ruteng.”

Pernyataan yang sama sudah disampaikan uskup itu kepada wartawan tanggal 12 Juni 2017 malam. “Setiap orang punya hak, kita memang tidak mengharapkan seperti itu, kita harus mencintai Gereja, Gereja itu menjadi komitmen, persatuan Gereja, komunio.”

Uskup tidak menghendaki para imam meninggalkan tugas mereka dan memberikan waktu kepada mereka untuk melihat atau meninjau kembali sikap mereka. “Intinya kita tidak menghendaki cara seperti itu, cara-cara seperti itu bukan cara Gereja yang kudus,” kata uskup yang juga tidak menyetujui desakan agar dirinya mundur.

Uskup pun mengajak awak media untuk membangun Gereja Keuskupan sebagai Gereja yang komunio, “agar saling menyejukkan satu sama lain.”

Dalam konferensi pers seusai rapat tertutup di Istana Keuskupan Ruteng, Pastor Martin Chen Pr sebagai juru bicara para imam yang datang dengan aksi proes itu mengatakan bahwa hari ini para imam datang mewakili anggota kuria, para pastor paroki, dan para imam pimpinan lembaga, ingin bertemu Uskup Ruteng Mgr Hubertus Leteng untuk membicarakan hal-hal penting dalam rangka pembaharuan hidup Gereja Keuskupan Ruteng.

“Pertemuan ini digagas dalam rangka pembaharuan hidup Gereja Keuskupan Ruteng. Lalu pertemuan ini tidak jadi karena Uskup tadi pagi tiba-tiba ada acara keluarga yang sangat mendesak, sehingga dia lalu tidak bisa bertemu dengan kami. Sehingga pertemuan yang sedianya kami rencanakan tadi pagi dengan beliau tidak jadi dilaksanakan,” kata Pastor Chen.

Ketika ditanya apa yang perlu dibaharui dalam Gereja Keuskupan Ruteng, imam itu menjawab ada banyak sesuai hasil sinode. “Pembaharuan itu menyangkut karya pastoral kita, pembaharuan menyangkut manajemen pastoral kita, manajemen keuangan kita. Pembaharuan yang juga kami temukan bagi diri kami sendiri, sehingga kami semakin menjadi gembala Yesus Kristus. Jadi banyak sekali pembaharuan yang sudah kami temukan bersama dalam proses sinode dan itu yang kami sekarang pelan-pelan mau wujudkan bersama,” tegas Pastor Chen.(Emanuel Bataona/pcp)

 

1 komentar

  1. Saat ini di keusukupan Ruteng sedang digagas dan disosialisakan membentuk GESER “Gerakan seribu Rupiah.( GESHAR). menindakalajuti seruan Paus Fransiskus Tentang Rahmat sakramen tidak bisa dinilai dengan benda apalagi uang. Sehingga pola lama yang mana umat dibebankan dengan iuran tahunan gereja ( kalau tidak lunas maka akan dihambat proses penerimaan sakrament bagi anggota keluarganya ) akan dihilangkan/ditiadakan dan diganti dengan gerakan seribu rupiah per hari. Menurut saya itu sudah cukup baik, tapi akan menjadi pikiran saya lagi, apakah masalah ini juga bagian dari demo para pastur 12 Juni 2017 kemarin. Soalnya banyak mengatakan masalah demo itu adalah demo masalah keuangan ,,,,,

Tinggalkan Pesan