Kotbah-di-Bukit

PEKAN BIASA X (H)

Santo Vitus; Santo Modestus; Santa Kresensa;

Santa Paola Gambara Cota; Santa Germana Cousin

Bacaan I: 2Kor. 3:15-4:1.3-6

Mazmur: 85:9ab-10.11-12.13-14; R:10b

Bacaan Injil: Mat. 5:20-26

Dalam khotbah di bukit berkataah Yesus: “Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar daripada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan. Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala. Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu. Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu itu jangan menyerahkan engkau kepada hakim dan hakim itu menyerahkan engkau kepada pembantunya dan engkau dilemparkan ke dalam penjara. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas.”

Renungan

Yesus berkata, ”Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar daripada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga.” Yesus tidak berkata kepada kita, ”jika hidup keagamaanmu tidak lebih baik daripada….”, tetapi ”tidak lebih benar daripada…”. Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi itu hidup keagamaannya sudah baik, tetapi tidak benar! Mengapa? Karena mereka menjalankan hukum Taurat dengan ketat, teliti, dan tanpa cacat, namun melakukannya karena takut berdosa, sebab Allah dilihat sebagai Hakim yang kejam. Yesus mengajarkan bahwa pandangan seperti itu tidak benar. Yesus ingin Allah dilihat sebagai Bapa yang penuh cinta dan maharahim. Kita melaksanakan perintah Allah karena cinta, bukan karena takut!

Kebanyakan dari kita belum melaksanakan benar ajaran Yesus ini. Kita condong mengaitkan hukum Tuhan dengan dosa. Kita dapat mengerti hukum Tuhan dengan benar bila kita membuka hati kepada Roh Kudus. Roh Kudus itu ada di dalam diri kita. Ia ada bila kita mengarahkan hati kepada kehendak-Nya. Roh Kuduslah yang memberikan penerangan hukum cinta kasih itu pada kita. Semakin kita dibimbing oleh Roh, semakin kita dibebaskan dari kungkungan cinta diri. Sebab buah Roh ialah kasih, sukacita, dan damai sejahtera (bdk. Gal. 5:22).

Ya Tuhan, berilah aku Roh-Mu agar dengan terang aku mengerti hukum cinta kasih-Mu yang membebaskan aku. Semoga hidupku tidak hanya baik, tetapi juga dalam kebenaran. Amin.

Tinggalkan Pesan