jesus-law

PEKAN BIASA X (H)

Santo Metodius; Beato Gerardus; Elisa, Nabi.

Bacaan I: 2Kor. 3:4-11

Mazmur: 99:5.6.7.8.9; R:9c

Bacaan Injil: Mat 5:17-19

Dalam khotbah di bukit Yesus berkata: ”Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi. Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Surga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Surga.”

Renungan

Paulus membandingkan Perjanjian Lama dengan Perjanjian Baru, hukum Taurat Musa dengan hukum Kristus. Hukum Taurat itu terukir dalam loh-loh batu di Gunung Sinai, kaku, dan tidak hidup. Sebaliknya, Perjanjian Baru berasal dari Roh, terukir dalam hati manusia, menghidupkan dan menghasilkan keselamatan kekal.

Yesus mengatakan bahwa Dia datang bukan untuk menghilangkan hukum Taurat, tetapi untuk menyempurnakannya. Hukum Taurat itu baik isinya, tetapi hukum itu tidak boleh dilakukan demi hukum itu sendiri (legalisme) sehingga orang merasa terbeban, terbelenggu dan berdosa jika tidak melaksanakannya. Yesus mau kita melaksanakan hukum Tuhan dengan semangat baru: Menaati hukum Allah karena cinta kepada-Nya, bukan karena takut berdosa sehingga tidak ada beban. St. Agustinus berkata, ”ama et fac quod vis”—cintailah, lalu lakukanlah apa saja yang kamu kehendaki.

Memang, dalam cinta tak ada rasa takut lagi, sebab segala aturan kita lakukan dengan gembira dan tanpa rasa salah. Itulah hukum yang membebaskan. Yesus ingin kita menaati hukum Tuhan seperti itu. Untuk itu Yesus memberikan Roh Kudus, Roh yang membarui semangat kita. Roh Kudus itu penting dalam hidup kita, agar kita tidak jatuh dalam legalisme dan sikap mudah mengadili orang lain berdosa. Dalam Yesus ada sukacita dan bukan ketakutan. Santa Teresa dari Kalkuta meneguhkan kita, ”Kasih yang sejati tidak pernah menuntut, tetapi ia hanya dapat memberi.”

Ya Tuhan, semoga aku menjalankan perintah-perintah-Mu bukan karena takut berdosa, tetapi karena cinta kepada-Mu. Amin.

 

 

Tinggalkan Pesan