DSCN6972

Ketua Komisi Liturgi Keuskupan Agung Jakarta (Komlit KAJ) Pastor Hieronymus Sridanto Pr mengatakan bahwa untuk menjawab kerinduan umat Katolik untuk mengetahui kekayaan dan tradisi Gereja Katolik, mulai bulan Juli akan diselenggarakan sekolah liturgi dengan beberapa pertemuan di Gereja Laurensius Alam Sutera, Tangerang.

Gagasan adanya sekolah liturgi, yang bisa diikuti paroki-paroki lain di KAJ, kata Pastor Sridanto kepada PEN@ Katolik di sela-sela kegiatan forum liturgi di Paroki Santo Gregorius Agung, Kutabumi, Tangerang, 11 Juni 2017, “bertujuan untuk menambah wawasan umat di bidang liturgi Gereja sekaligus bertujuan untuk meningkatkan mutu pelayanan liturgi di paroki masing-masing.”

Sekolah itu, lanjut imam itu, akan melibatkan umat yang selalu aktif di bidang liturgi di paroki masing-masing. “Tujuan lain dari sekolah liturgi adalah membantu para imam di setiap paroki serta mendorong umat di tingkat lingkungan untuk selalu aktif mengikuti liturgi, seperti semangat Arah Dasar KAJ, 2016-2020.”

Dalam forum liturgi itu, Pastor Sridanto juga menjawab keprihatinan dari Koordinator Liturgi Paroki Santa Maria Tangerang FX Suryanto bahwa dalam Misa Perkawinan di parokinya kadang-kadang dinyanyikan lagu-lagu sekuler yang tidak sesuai ciri khas liturgi Katolik.

“Yang menyelenggarakan Misa Perkawinan di suatu paroki hendaknya selalu bekerjasama dengan tim katekese paroki untuk melakukan pembenahan. Usul saya, yang menyelenggarakan Misa Perkawinan tidak usah sewa kelompok paduan suara yang mahal, tapi cukup kor lingkungan tempa asal pasangan yang menikah,” kata pastor rekan Paroki Santo Laurensius Alam Sutera itu.

Dengan menggunakan paduan suara yang melibatkan umat lingkungan, imam itu yakin, umat lain perayaan itu bisa dimaknai dengan sebaik-baiknya.

Pastor Sridanto mengira, munculnya lagu-lagu rohani sekuler pada Misa Perkawinan disebabkan oleh terbatasnya jumlah lagu yang dimiliki umat setempat. “Untuk mengatasi hal itu, pihak Komisi Liturgi KAJ sedang mengadakan lomba mengarang atau menulis lagu liturgi perkawinan,” kata imam itu seraya berharap pegiat bidang liturgi bisa mengirimkan lagu ke KAJ untuk menambah khazanah lagu-lagu itu. (Konrad R Mangu)

Tinggalkan Pesan