Jesus-and-a-scribe

PEKAN BIASA IX (H)

Santo William; Beata Maria Drozte;

Beato Nikolaus Gesturi

Bacaan I: Tob. 6:10-11; 7:1.6.8-13; 8:1.5-9

Mazmur: 128:1-2.3.4-5; R:1a

Bacaan Injil: Mrk. 12:28b-34

Seorang ahli Taurat, yang mendengar Yesus dan orang-orang Saduki bersoal jawab dan tahu, bahwa Yesus memberi jawab yang tepat kepada orang-orang itu, datang kepada-Nya dan bertanya: ”Hukum manakah yang paling utama?” Jawab Yesus: ”Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini.” Lalu kata ahli Taurat itu kepada Yesus: ”Tepat sekali, Guru, benar kata-Mu itu, bahwa Dia esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia. Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri adalah jauh lebih utama dari pada semua korban bakaran dan korban sembelihan.” Yesus melihat, bagaimana bijaksananya jawab orang itu, dan Ia berkata kepadanya: ”Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!” Dan seorang pun tidak berani lagi menanyakan sesuatu kepada Yesus.

Renungan

Kisah perkawinan Tobia dan Sara mengharukan. Mereka hidup sebagai suami istri dalam iman yang kuat dan berlindung hanya pada Tuhan, sehingga mereka selamat dan diberkati-Nya. Pada malam pertama, mereka berdoa, ”… Ya Tuhan, bukan karena nafsu berahi kuambil saudariku ini, melainkan dengan hati yang benar. Sudilah kiranya mengasihani kami berdua, dan membuat kami menjadi tua bersama.” Cinta kasih suami istri yang demikian ini menghadirkan cinta kasih Allah kepada manusia.

Cinta kasih dalam keluarga sangat penting. Ia mewujudnyatakan cinta kasih dari Allah yang tak tampak. Kita tidak dapat berkata mencintai Allah jika kita tidak mengasihi orang-orang yang tinggal bersama kita. Kita lebih mudah mengasihi orang yang jauh tinggalnya dengan kita daripada orang-orang yang hidup dekat sehari-hari dengan kita. Kita mudah jatuh pada cinta superfisial saja. Cinta kasih itu harus konkret, real, dan membumi. Cinta itu perbuatan nyata, keputusan, bukan perasaan.

Ya Tuhan, berilah aku rahmat agar dapat mengasihi dengan tulus orang-orang yang tinggal bersamaku. Semoga dengannya, aku mengalami kasih-Mu juga. Amin.

Ziarah Batin 2017

 

Tinggalkan Pesan