apperance-of-jesus

Hari Raya Pentakosta

4 Juni 2017

Yohanes 20:19-23

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno OP

“Terimalah Roh Kudus. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni (Yoh 20: 22-23).”

Pentakosta adalah peringatan turunnya Roh Kudus atas para murid di ruang atas. Gambaran yang ada di dalam pikiran kita biasanya dramatis dan nyata. Murid-murid berkumpul di ruang atas, tiba-tiba angin kencang memenuhi ruangan, diikuti oleh munculnya lidah-lidah api. Terinspirasi oleh Roh Kudus, para murid mulai berbicara dalam berbagai bahasa, dan memberitakan Injil. Gambaran Pentakosta ini benar adanya karena ini berasal dari Kisah Para Rasul (bacaan pertama kita hari ini). Sebenarnya, Kisah Para Rasul juga mengatakan bahwa Pentakosta terjadi 50 hari setelah hari Minggu Paskah (Pentakosta sendiri berarti ’50’ dalam bahasa Yunani).

Namun, pencurahan Roh Kudus dalam Injil hari ini yang berasal dari Injil Yohanes memberi kita gambaran yang sedikit berbeda dengan Kisah Para Rasul. Gambarannya kurang dramatis, kurang hidup, dan kurang menakjubkan. Tidak ada angin kencang, tidak ada lidah api yang melayang di kepala murid-murid, tidak ada kemampuan mengagumkan untuk berbicara dalam berbagai bahasa. Hanya Yesus dan murid-murid-Nya. Namun, jika kita melihat secara dekat tindakan dan kata-kata Yesus serta konteks cerita ini, Pentakosta dalam Injil Yohanes adalah sangat kuat dan transformatif.

Para murid mengunci diri di dalam ruangan karena takut pada orang Yahudi. Guru mereka baru saja dieksekusi, dan mereka takut bahwa penguasa Yahudi dan tentara Romawi juga akan menangkap mereka. Tapi, mungkin saja mereka benar-benar takut karena Yesus yang bangkit akan kembali kepada mereka dan membuat perhitungan. Mereka meninggalkan Yesus saat Ia ditangkap, dianiaya dan dijatuhi hukuman mati. Mereka lari dan menyangkal-Nya saat Dia dipermalukan di kayu salib dan mati sebagai penjahat yang memalukan. Itu adalah saatnya bagi Yesus untuk menuntut balas, dan Yesus bisa saja melemparkan mereka ke api neraka dalam sekejap. Namun, Yesus datang tidak untuk membalas dendam, tapi untuk membawa kedamaian. Dia datang untuk tidak memuaskan murka-Nya, tetapi untuk memberi mereka Roh Kudus. Roh ini adalah roh pengampunan, kekuatan untuk menyembuhkan, dan energi yang menyatukan kesatuan. Memang, Yesus menanggung luka-luka di tubuh-Nya, namun terlepas dari luka dan penderitaan-Nya, Yesus mengampuni mereka dan memberdayakan mereka untuk mengampuni diri-sendiri dan satu sama lain di dalam kekuatan Roh Kudus-Nya. Yesus menunjukkan kepada mereka bahwa kekerasan hanya melahirkan kekerasan, dan balas dendam menyebabkan lebih banyak kerugian, dan hanya pengampunan yang dapat membawa kedamaian sejati.

Di dunia kita saat ini, banyak dari kita terluka oleh kata-kata dan tindakan orang lain. Kecenderungan alamiah kita adalah marah dan mencoba mencari keadilan. Namun, seringkali, yang terjadi adalah kita menumbuhkan kemarahan dan kebencian, dan menunggu sampai waktu yang tepat untuk melampiaskan kemarahan ini dengan cara yang lebih jahat lagi. Tapi, sesungguhnya menyimpan kemarahan dan kebencian tidak menghancurkan siapa pun kecuali diri kita sendiri. Kita menjadi gelisah, stres, dan sakit. Tanpa disadari, kita menjadi seperti orang yang telah menyakiti kita.

Pentakosta bukan hanya peringatan tentang apa yang terjadi di awal Gereja, kita membutuhkan Pentakosta sekarang. Kita berdoa agar Roh Kudus memberdayakan kita untuk mengampuni orang lain dan diri kita sendiri, karena hanya Roh Yesus yang membawa kedamaian dan keadilan yang sejati, karena hanya Roh Allah yang menyembuhkan luka-luka kita. Kita berdoa agar Roh Kudus memampukan kita menjadi murid-murid-Nya yang juga membawa pengampunan dan damai, karena hanya dengan Roh Kebenaran, keluarga kita, lingkungan kita, masyarakat kita, bangsa kita dan dunia kita akan menjadi tempat yang lebih baik.

Salam Pentakosta!

 

Tinggalkan Pesan