Silaturahmi Kebangsaan (1)

Petang tanggal 30 Mei 2017, beberapa tokoh dari berbagai agama datang ke Paroki Santa Theresia Bongsari Semarang dan di sambut di beranda pastoran oleh Kepala Paroki Bongsari Pastor Eduardus Didik Cahyono SJ seraya mengatakan, “Kami sungguh sangat gembira boleh menjadi sahabat rekan-rekan semua.”

Selanjutnya Pastor Didik berharap agar persahabatan dan kebersamaan sebagai bangsa dan negara itu bisa memberi warna lebih jelas, warna yang lebih kentara bagi persatuan dan kebersamaan sebagai saudara sebangsa, setanah air, meskipun berbeda agama.

Koordinator “Silaturahmi Kebangsaan” yang digagas oleh Persaudaraan Lintas Agama (Pelita), Setyawan Budi mengatakan, silaturahmi kebangsaan merupakan program untuk bersilaturahmi bersama para tokoh agama secara bergilir. Harapannya kegiatan itu bisa menguatkan tali persaudaraan antarsatu dengan yang lainnya.

Suasana pertemuan sungguh segar dan cair, kadang gelak tawa pecah di antara para tamu. Mengingat sebagian peserta yang datang beragama Islam yang sedang menjalankan ibadah puasa, maka sore itu juga diadakan buka puasa. Setelah doa buka puasa yang dipimpin oleh Hesti, para tamu menyantap hidangan buka puasa. Ada yang memulainya dengan minum teh hangat. Ada yang memilih menikmati takjil lebih dulu. Lalu mereka mengakhiri dengan makanan yang lebih berat.

Pelita merupakan jejaring para aktivis dari berbagai organisasi baik keagamaan maupun non keagamaan. Mereka bekerja sama untuk saling membangun persaudaraan.

Rizky dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Semarang mengapresiasi dan berharap kegiatan seperti ini terus dilakukan. Sedangkan Fahmi dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) mengaku menemukan suasana yang dirindukannya. “Dengan suasana ketika umat saling menyisihkan satu sama lain, saling menjatuhkan satu sama lain, kita di sini di Semarang, dari berbagai macam golongan dan latar belakang bisa berkumpul, bisa gayeng, bisa saling guyon,  tidak ada sekat di antara kita. Dan saya sangat bersyukur sekali bisa hadir di forum ini,” katanya.

Aktivis perempuan Ellen mengatakan, kerja sama untuk menjalin persaudaraan harus selalu dilakukan. “Siapapun yang sedang mengalami tekanan, penindasan atau diskriminasi, kita harus sama-sama guyub dan mendukung, baik secara sosial seperti ini, kalau perlu sampai ke ranah hukum. Kita pertahankan hak-hak kita untuk hidup bhinneka,” katanya.

Ibnu Sartono dari Islam juga menyampaikan sharingnya mengenai puasa. Menurutnya, puasa bermanfaat untuk kesehatan. Sedangkan rekannya, Agus Supriyanto mengatakan, puasa adalah sarana untuk mendekatkan diri pada Tuhan.

Pastor pembantu Peter Devantara SJ dalam kesempatan itu menyampaikan sharing mengenai pengalamannya live in di sebuah pesantren. Di pesantren itu, dia disambut dengan baik. Bahkan, Pastor Peter tinggal di pesantren itu selama dua minggu dan diperlakukan oleh para santri seperti saudara yang saling menghormati.

Pastor Didik dalam sambutan penutup menyatakan rasa gembiranya karena kebanyakan yang hadir dalam acara itu adalah kaum muda yang merupakan pewaris bangsa Indonesia.(Lukas Awi Tristanto)

 

 

 

 

Tinggalkan Pesan