elar Budaya Ungaran (2)

Para penari Rampak Buto menggoyangkan badannya dengan dinamis mengikuti irama ritmis yang ditabuh para pemukul gamelan. Selain mengenakan topeng-topeng menyeramkan, mereka memakai lonceng-lonceng kecil bergantungan di kaki mereka. Suara lonceng-lonceng bergemerincing memekakkan telinga. Sesekali tenang, tiba-tiba mengeras seiring gerakan sang penari yang dinamis.

Itulah sepenggal adegan gelar budaya di alun-alun Bung Karno, Ungaran, Kabupaten Semarang, 21 Mei 2017. Acara yang dihelat atas kerja sama antara Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang (Komisi HAKKAS), Dewan Kesenian Kabupaten Semarang (DKKS) dan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Jawa Tengah itu menyedot perhatian masyarakat.

Ketua DKKS Sarwoto menjelaskan, acara itu diadakan dalam rangka menggelorakan semangat kebangsaan. “Kami memberanikan diri untuk kembali membuat acara, gabungan dari beberapa kelompok seni, lintas agama, lintas pejuang-pejuang seni di kabupaten Semarang untuk kembali berbicara soal Pancasila, NKRI, Kebhinekaan, dan UUD 1945 yang kita yakini sebagai pemersatu bangsa, pemersatu anak-anak bangsa dalam berkarya di bumi yang kita cintai,” katanya.

Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI dari Jawa Tengah, Bambang Sadono, mengatakan Sukarno sebagai salah seorang yang mencetuskan ideologi Pancasila selalu mengatakan kalau Pancasila tidak dibuat, tidak disusun, atau tidak dikarang, tetapi “digali, digali dari yang sudah ada, dari kultur, dari kebudayaan, dan dari nilai-nilai, yang berkembang di masyarakat.”

Kebudayaan yang tinggi, lanjutnya, hanya bisa dihasilkan oleh masyarakat yang berperadaban sangat tinggi, masyarakat yang sejahtera, masyarakat yang bersatu, dan masyarakat yang religius. “Itu yang bisa menghasilkan kebudayaan yang tinggi. Dan bangsa yang besar itu hanya bangsa yang meyakini suatu keyakinan yang kuat, yang berasal dari nilai-nilai kebudayaan,” katanya.

Gelar budaya yang melibatkan para seniman di sebagian wilayah Kabupaten Semarang itu diisi refleksi kebangsaan dari para tokoh agama. Pastor Aloys Budi Purnomo Pr mewakili agama Katolik dan Komisi HAK KAS mengatakan, acara itu merupakan upaya menghidangkan kekayaan kebudayaan dan agama. “Kita diberi hidangan budaya dalam bingkai keagamaan atau keagamaan dalam bingkai budaya yang membawa keharmonisan, yang membawa kerukunan, yang menghadirkan persaudaraan sejati tanpa diskriminasi mulai dari anak-anak, remaja, orang muda, dewasa, orang tua,” katanya.

Sementara itu, tokoh agama Kristen, Pendeta Didik mengatakan, perbedaan bukanlah masalah. “Perbedaan adalah anugerah yang Tuhan karuniakan kepada kita. Kita ada di bangsa yang berbeda-beda terhadap suku, agama da  ras,” katanya dengan suara lantang. Menurutnya, perbedaan itu yang membuat bangsa kuat dan hidup bersama.

Tokoh agama Hindu, Sandiman mengajak pengunjung supaya tetap bergandeng tangan dalam kebhinekaan dengan hati yang bersih, suci dan damai. “Yang besar atau mayoritas janganlah berbuat  seenaknya, demikian juga yang minoritas berbuat seolah tidak punya aturan dan tidak mengindahkan tata krama dalam hidup bersosial. Untuk itu saudaraku sekalian dalam acara temu budaya seperti ini, ayolah kita semua kembali kepada budaya kita, mengenal ajaran nenek moyang kita yang adiluhung,” katanya.

Tokoh agama Buddha, Romo Puji menegaskan, pertikaian akan membawa penderitaan. Demikian pula, kebencian tidak akan pernah berakhir jika dibalas kebencian. “Tetapi kebencian akan berakhir kalau dibalas dengan cinta kasih dan kasih sayang. Karena itu, mari kita saling menghargai. Menghargai orang lain, sama juga orang menghargai dirinya sendiri. Mencela orang lain, sama juga mencela dirinya sendiri,” ungkapnya.

Sedangkan tokoh Islam Lili mengajak masyarakat supaya saling mengayomi, saling menghargai bahkan memberikan keindahan antara satu dengan yang lainnya.

Panitia menghadirkan para pelaku seni yang ada di sekitar Ungaran untuk tampil dalam gelar budaya bertajuk “Merti Budaya Serasi” itu. Selain Tari Rampak Buto, ada penampilan drumband anak TK Mardi Rahayu, kolaborasi tamborin dan tari sufi, rebana, barongsai, kesenian Nadrak, tari Guyub Rukun, Anoman Krido, tari Geol Denok, Reog, tari Prajuritan dan seni Kuda Lumping.

Selain berkolaborasi dalam tarian sufi yang merepresentasikan Islam dan Tamborin yang merepresentasikan Kristen, Pastor Budi berkolaborasi melalui tiupan saksofon ketika seni Nadrak tampil. Seni Nadrak adalah kesenian yang berkaitan dengan dakwah agama Islam.

Masyarakat, dari anak-anak, remaja, anak muda maupun orangtua antusias menyaksikan gelar budaya, yang digelar dari pagi hari hingga senja hari. Banyak senimannya berasal dari kalangan anak muda.(Lukas Awi Tristanto)

elar Budaya Ungaran (6)

elar Budaya Ungaran (7)

elar Budaya Ungaran (1)

elar Budaya Ungaran (3)

elar Budaya Ungaran (5)

elar Budaya Ungaran

 

 

 

Tinggalkan Pesan