Para pemenang Lomba Joyfujl Run 2017 untuk 2,5 K menerima hadiah dari Mgr Mgr Pius Riana Prapdi
Para pemenang Lomba Joyfujl Run 2017 untuk 2,5 K menerima medali dan hadiah uang dari Mgr Mgr Pius Riana Prapdi

Joyful Run 2017 berhasil mengajak masyarakat Jakarta dan sekitarnya untuk bisa membangun kesatuan dan persaudaraan lewat olahraga bersama, dan merasakan sukacita dalam melakukan aktivitas bersama yang  merupakan spirit Asian Youth Day (AYD) 2017 yang akan dilakukan bulan Agustus di Yogyakarta.

Buktinya, sebanyak  5600 peserta yang terdiri dari OMK, anak-anak serta orangtua dari paroki-paroki se-Keuskupan Agung Jakarta, yang mencakup Tangerang dan Bekasi, mengikuti kegiatan pada Minggu Panggilan, 7 Mei 2017. Padahal, target panitia hanya 5000 peserta. Nampak juga beberapa imam, termasuk Ketua Komisi Kepemudaan Konferensi Waligereja Indonesia Mgr Pius Riana Prapdi, dan puluhan warga non-Katolik, mengikuti lomba lari itu.

Joyful Run AYD 2017 dengan tiga kategori, 10K, 5K, dan 2,5K, yang berlangsung di jalan-jalan di depan Mall Alam Sutera Tangerang dilepas mulai pukul 6.00 pagi setelah peserta menyanyikan lagu Indonesia Raya dan berdoa bersama.

Sekretaris Eksekutif Komisi Kepemudaan KWI yang juga Ketua Umum AYD 2017 Pastor Antonius Haryanto Pr menjelaskan, acara itu merupakan salah satu bentuk kegiatan dari tema AYD “Joyful Asian Youth: Living the Gospel in Multicultural Asia!” yang mengajak orang muda se-Asia mempromosikan budaya solidaritas dan merangkul dalam masyarakat multikultural.

Pastor Haryanto mengatakan kepada PEN@ Katolik bahwa acara yang melibatkan banyak orang itu bertujuan agar semua orang semakin sadar bahwa “AYD di Indonesia menjadi bagian dari kita semua. Bukan hanya umat Katolik, tapi semua masyarakat Indonesia.”

Joyful run yang merupakan pesan kegiatan itu, menurut imam dari Keuskupan Bandung itu, untuk menanggapi suasana tidak nyaman baru-baru ini akibat Pilkada di DKI Jakarta. “Pesan itu kita sampaikan agar OMK Asia tidak takut dengan berita-berita dalam waktu dekat ini, karena itu hanyalah sebagian kecil warga Indonesia.”

Yang benar, jelas imam itu, “Warga negara Indonesia itu ramah dan penuh kedamaian, tetap menerima siapa pun. Dengan joyful run kita buktikan bahwa ngak apa-apa datang ke Indonesia. Run dibuka untuk umum. Ternyata, data pendaftaran mengungkapkan banyak warga non-Katolik ikut mendaftar.”

Selain lomba lari, kata Ketua Panitia Joyful Run AYD 2017 Nixon J Silfanus, ada jalan santai dan Lomba Kostum, “saat peserta didorong mengenal dan menunjukkan keberagaman Asia melalui variasi kostum.” Dengan melihat beragam kostum dan budaya antara lain Tari Saman, Musik Keroncong, Gamelan, dan Tarian India, “kami berharap peserta merasakan indahnya kemajemukan Asia dan Indonesia,” katanya.

Nixon membenarkan ada 25 wakil lima agama lain dalam FKUB yakni Islam, Protestan, Hindu, Budha dan Konhucu. “Saya yakin banyak non-Katolik ikut karena pendaftaran dibuka untuk umum.” Dengan tema “Kalau berbeda itu biasa, tetapi bersatu dalam perbedaan adalah yang luar biasa,” panitia menunjukkan bahwa dengan olah raga “kita bergembira dan bersatu, lepas dari batas-batas suku, agama, dan ras.”

Menurut Mgr Prapdi yang juga Uskup Ketapang, “Sesuai visi dan misi Komisi Kepemudaan KWI, kami ingin mengajak OMK di Asia dan Indonesia untuk mengembangkan diri, menumbuhkan solidaritas, dan kepekaan sosial terhadap tantangan-tantangan yang dihadapi bangsa-bangsa di Asia.”

Joyful Run AYD 2017, jelas uskup, merupakan salah satu sarana untuk menunjukkan bahwa keceriaan dalam keberagaman merupakan keistimewaan yang harus dijaga, “karena seluruh OMK di Asia diminta ikut menciptakan kerukunan dalam membangun negara dan bangsa di tengah kemajemukan.”

Dengan melihat dan merasakan langsung budaya, bahasa dan karakter yang begitu berbeda dalam AYD, peserta dapat merasakan kompleksitas hidup di tengah masyarakat majemuk. Nuansa persaudaraan dan kekeluargaan selama AYD diharapkan membantu OMK mengembangkan diri, serta menumbuhkan solidaritas dan komitmen untuk mewujudkan masa depan global yang lebih baik.

Mgr Prapdi mengatakan kepada PEN@ Katolik, Indonesia negara yang  sangat plural, “dan karena plural itulah Indonesia menjadi negara, dan perbedaan suku, bahasa, dan agama itulah yang membuat Indonesia menjadi Indonesia.”

Maka, uskup mengajak OMK se-Asia untuk tidak kuatir datang ke Indonesia, karena “para tokoh dan pendiri bangsa adalah orang-orang yang berbeda agama, budaya, bahasa dan latar belakang, tapi itulah yang membuat mereka menemukan banyak titik temu yang menjadikan Indonesia.”

Kalau satu kelompok mengadakan kegiatan, “bukan kelompok itu yang mengadakan, tetapi warga negara Indonesia, yang kebetulan beragama tertentu, dan kali ini agama Katolik.Tapi pertama-tama bagi orang Indonesia, berbeda itu Indonesia, berbeda itu Pancasila. Itu identitas bangsa kita, seperti semboyan Mgr Albertus Sugiyapranata, 100 persen Katolik, 100 persen Indonesia. Identitas itu tak bisa disangkal, itu sudah menyatu.”(paul c pati)

Para pemenang Lomba Lari Female 2,5 K bersama Mgr Prapdi
Para pemenang Lomba Lari Female 2,5 K bersama Mgr Prapdi
Mgr Prapdi, ditemani Ketua Umum AYD 2017 Pastor Antonius Haryanto Pr, meniup kue ulang tahunnya 5 Mei
Mgr Prapdi, ditemani Ketua Umum AYD 2017 Pastor Antonius Haryanto Pr, meniup kue ulang tahunnya 5 Mei
Ketua Panitia Joyful Run AYD 2017 Nixon J Silfanus
Ketua Panitia Joyful Run AYD 2017 Nixon J Silfanus
Peserta Joyful Run 2017 bersiap untuk berlari
Peserta Joyful Run 2017 bersiap untuk berlari
Peserta Joyful Run 2017 bersiap untuk berlari
Peserta Joyful Run 2017 bersiap untuk berlari
Peserta Joyful Run 2017 mulai berlari, namun karena banyaknya peserta mereka mulai dengan bersiap berjalan
Peserta Joyful Run 2017 mulai berlari, namun karena banyaknya peserta mereka mulai dengan bersiap berjalan
Peserta Lomba Busana ikut bergambar di garis start
Peserta Lomba Busana ikut bergambar di garis start
Peserta Lomba Busana ikut bergambar di garis start
Peserta Lomba Busana ikut bergambar di garis start
Bagikan
Artikel sebelumRabu, 10 Mei 2017
Artikel berikutKamis, 11 Mei 2017

Tinggalkan Pesan