yoh-10_27

PEKAN PASKAH IV (P)

Santo Sirilus dari Sesarea; Santa Katarina dari Bologna;

Santo Georgius Preca

Bacaan I: Kis. 11:19-26

Mazmur: 87:1-3.4-5.6-7; R: 117:1a

Bacaan Injil: Yoh. 10:22-30

Pada hari raya Pentahbisan Bait Allah di Yerusalem, ketika itu musim dingin, Yesus berjalan-jalan di Bait Allah, di serambi Salomo. Maka orang-orang Yahudi mengelilingi Dia dan berkata kepada-Nya: ”Berapa lama lagi Engkau membiarkan kami hidup dalam kebimbangan? Jikalau Engkau Mesias, katakanlah terus terang kepada kami.”

Yesus menjawab mereka: ”Aku telah mengatakannya kepada kamu, tetapi kamu tidak percaya; pekerjaan-pekerjaan yang Kulakukan dalam nama Bapa-Ku, itulah yang memberikan kesaksian tentang Aku, tetapi kamu tidak percaya, karena kamu tidak termasuk domba-domba-Ku. Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku, dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorang pun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku. Bapa-Ku, yang memberikan mereka kepada-Ku, lebih besar dari pada siapa pun, dan seorang pun tidak dapat merebut mereka dari tangan Bapa. Aku dan Bapa adalah satu.”

Renungan

Pertumbuhan dan perkembangan benih-benih Kerajaan Allah bukanlah tanpa kesulitan dan tantangan. Hal ini tergambar dalam pengalaman hidup jemaat perdana. Mereka ditindas dan dianiaya dengan hebat karena iman akan Kristus. Namun, itu bukanlah situasi yang benar-benar suram, sebab justru dalam pengalaman demikian, mereka bahkan menjadi semakin militan bersaksi tentang Yesus kepada bangsa-bangsa lain. Semuanya itu tentu tidak terlepas dari kesetiaan iman pada Allah yang selalu menolong dan memberikan kekuatan. Yesus dalam karya misi-Nya juga mengalami hal yang sama, ketika berhadapan dengan kedegilan hati orang-orang Yahudi yang tidak mau menerima dan percaya kepada-Nya. ”Aku telah mengatakannya kepada kamu, tetapi kamu tidak percaya; pekerjaan-pekerjaan yang Kulakukan dalam nama Bapa-Ku, itulah yang memberi kesaksian tentang Aku, tetapi kamu tidak percaya…” (Yoh. 10:25). Namun, ketertutupan hati tidaklah lebih kuat dari cinta Bapa yang mau menyelamatkan.

Beriman tentu bukan sekadar percaya melainkan dituntut suatu kesaksian hidup yang teguh dan otentik, terutama dalam mempertanggungjawabkan iman itu. Justru di sinilah ketegangannya. Orang sering kali mengaku diri percaya kepada Yesus, tetapi pada saat yang sama enggan, atau barangkali tidak berani menerima risiko. Akhirnya, kesaksian iman itu bertumbuh suam-suam kuku, tidak bertahan, layu, dan mati sebelum waktunya. Untuk itu, kita perlu belajar dari ketekunan dan kesetiaan para murid perdana pada penyelenggaraan ilahi. Sebab dunia yang sedemikian jauh dikuasai kegelapan saat ini sangat membutuhkan kesaksian yang tegas dan berani dari kita orang-orang beriman.

Tuhan Yesus, anugerahkanlah daya ilahi-Mu agar aku memiliki keberanian sehingga sanggup memuji dan memuliakan Dikau dengan kata-kata, dan menjalankannya dalam tindakan nyata secara meyakinkan tanpa rasa takut dan gentar. Amin.

Renungan Ziarah Batin 2017

 

Tinggalkan Pesan