Misa Leva

Dulu, ketika agama belum dikenal di Lamalera, nenek moyang sangat percaya bahwa Allah sudah menyediakan ikan di laut untuk hidup. Sayangnya, saat ini orang Lamalera lebih percaya pada mesin. Akibatnya, tidak ada lagi bagian ikan yang khusus diberikan untuk orang susah dan anak yatim piatu, karena bagian tersebut diberikan untuk mesin. Ola Nue (melaut) sudah diganti dengan mesin nuang (musim). Anak-anak muda saat ini tidak lagi dayung, maunya ikut di perahu dengan mesin.

Kekecewaan itu diungkapkan oleh Pastor Pieter Dile Bataona SVD dalam Misa Pembukaan Musim Lefa (musim bekerja di laut bagi para nelayan) tahun ini. Bahasa Lamalera mendominasi keseluruhan upacara Misa yang dihadiri ratusan orang. Kepala Paroki Lamalera Pastor Leo Lewokrore Pr dan Pastor Bernard Kedang Pr menjadi konselebran Misa yang dirayakan di Pantai Lamalera, 1 Mei 2017.

Melihat keadaan umat Lamalera saat ini dan mengingat bahwa Allah menginginkan agar semua orang percaya kepada putera-Nya, Pastor Pieter Dile Bataona bertanya, “Apakah kita pasrah saja?” Padahal, lanjut imam itu, mereka sudah dididik untuk melestarikan budaya.

“Apakah iman leluhur yang kita anut? Percaya kepada Allah (Alepte), atau iman yang dibangun berdasarkan sistem modernisasi yang sedang menghempas dan menyingkirkan kita menjadi orang asing di warisan budaya leluhur ini?” tanya imam itu seraya menegaskan bahwa terasing dari budaya akan membuat mereka gampang tertangkap jerat-jerat hukum.

Lalu, “Apa yang harus kita lakukan? Percaya seperti nenek moyang kita atau ikut irama modernisasi, motornisasi yang membuat kita semakin jauh dari semangat iman leluhur kita,” imam itu masih bertanya, seraya menjelaskan bahwa motornisasi justru membuat mereka semakin miskin dalam setiap sendi kehidupan.

Semakin miskin, jelas imam itu, “karena kita melepas anak suku, mereka tidak dapat bagian, karena mereka tidak punya tenaga untuk ikut melaut. Kita semakin miskin karena ikan-ikan harus diuangkan untuk beli minyak solar mesin.”

Dalam pernyataan tobat, terdengar lagu “Ampuni Ya Tuhan” mengiringi pernyataan tobat dari tuan tanah, Tena Alep (pemilik perahu), Ume Alep (pengatur pembagian ikan), Pnete Alep (Perempuan Lamalera). Mereka menyampaikan seluruh isi hati mereka dan apa yang mereka lakukan selama musim lefa yang berlalu. Di hadapan altar Kapel Santo Petrus Paulus Lamalera, mereka berbicara dalam bahasa Lamalera, memohon pengampunan Tuhan atas semua kesalahan mereka.

Misa diakhiri dengan pemberkatan seluruh perahu dan pelepasan Praso Sapang sebagai tanda mengawali Musim Lefa tahun ini.

Sehari sebelumnya, di tempat yang sama, diadakan Misa Arwah untuk nelayan yang meninggal di laut. Sebanyak 39 orang yang meninggal sejak tahun 1917 dibacakan. Sebelum Misa diakhiri, dilakukan upacara arung lilin dan bunga di Laut Lamalera. Misa itu dipimpin oleh Pastor Leo Lewokrore Pr. (Eman Bataona)

Misa Leva1

Misa Leva2

 

Tinggalkan Pesan