Srawung Budaya (3)
Pastor Aloys Budi Purnomo Pr memainkan lagu Tombo Ati melalui saksofonnya diiringi tarian sufi yang dibawakan oleh Ilham

Suara musik keroncong membuat acara Srawung Budaya semakin semarak di aula gereja Paroki Santa Perawan Maria, Purbowardayan, Solo. Terlebih lagi suara saksofon, siter dan suling saling bersahutan mengimbangi musik keroncong yang mengiringi lantunan tembang Ki Jantit, yang malam itu juga berperan sebagai dalang wayang srawung.

Malam itu, para seniman dan budayawan membicarakan tema Nglurug Tanpa Bala (Menyerbu tanpa Pasukan). Tema ini diangkat seiring dengan maraknya semangat komunalisme yang berkembang untuk memenangkan sesuatu dan tak jarang wajah yang ditampilkan adalah wajah yang tak ramah pada persahabatan.

Delegatus Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang Pastor Aloys Budi Purnomo Pr yang malam itu hadir mengatakan nglurug tanpa bala merupakan cerminan dari peradaban kasih, “Nglurug tanpa bala merupakan ekspresi cinta kasih.”

“Berbagi cinta, rukun, apapun agamanya, jadi pelopor peradaban kasih,” kata Pastor Budi Purnomo malam itu, 22 April 2017, seraya memainkan lagu Tombo Ati dengan saksofon, berduet dengan tokoh Islam, Mbah Lepo, dan diiringi tarian sufi yang dibawakan oleh Ilham.

Srawung adalah kosa kata bahasa Jawa yang berarti komunikasi, sosialisasi, dan kontak sosial.  Srawung budaya menjadi sangat menarik karena Ki Jantit yang menjadi pembawa acara itu juga berperan sebagai dalang, yang memainkan wayang srawung sebagai sarana untuk memandu dan menyampaikan pesan-pesan dalam acara tersebut.

Srawung budaya juga dimeriahkan dengan tarian misi nusantara, pantomim al viona, tembang macapat, pembacaan puisi, yoga, dan permainan siter Kang Ujang.

Tembang Jawa juga dilantunkan oleh Kepala Paroki Purbawardayan Pastor Antonius Budi Wihandono Pr. Setelah itu, Pastor Wihandono menyampaikan keprihatinannya, atas nama agama, “banyak orang yang bertindak berlawanan dengan yang diajarkan Tuhan.”

Menurutnya, orang yang beragama dengan benar adalah orang yang semakin manusiawi. “Agama yang benar harus semakin manusiawi,” kata imam itu seraya menegaskan bahwa beragama namun tidak membuat orang semakin manusiawi “berarti ada yang keliru dalam cara beragamanya.”

Pagi harinya, 23 April 2017, di balai kota Surakarta, ratusan kaum muda lintas agama juga merayakan keberagaman dalam acara Srawung Kaum Muda Lintas Agama. Dalam acara itu mereka merayakan keberagaman, melakukan refleksi, dan menyampaikan deklarasi tentang menghormati perbedaan.

Perayaan keberagaman ditandai dengan penampilan berbagai kesenian. Beberapa di antaranya adalah kesenian hadrah, tari Bali, dan tarian sufi. Selain Pastor Budi, sejumlah tokoh agama turut menyampaikan refleksi tentang kebhinekaan yaitu Suparman (Islam), Pinandhito Bagyohadi (Hindu), Sektiono (Buddha), dan Ws Adjie Chandra (Konghucu).

 

Kaum muda dari berbagai agama itu menyampaikan seruan dan tekad dalam deklarasi yang mereka gagas. Pertama, menjunjung tinggi Pancasila dan UUD 1945 sebagai poros etik berbangsa dan bernegara yang merdeka. Kedua, menghayati keberagaman agama sebagai keindahan, perdamaian dan persatuan Indonesia. Ketiga, menghormati hak beragama antarumat. Keempat, bersikap toleran terhadap antarumat beragama. Kelima, merawat dan melestarikan kebudayaan asli Surakarta: budaya unggah-ungguh sebagai tata krama menghormati antar manusia. Keenam, Saling gotong-royong bekerja sama menciptakan suasana guyub rukun di kota Surakarta.(Lukas Awi Tristanto)

Kepala Paroki Santa Perawan Maria Regina Purbawardayan Pastor Antonius Budi Wihandono Pr
Kepala Paroki Santa Perawan Maria Regina Purbawardayan Pastor Antonius Budi Wihandono Pr
Ki Jantit, dalang wayang srawung
Ki Jantit, dalang wayang srawung

Srawung Budaya (4)

Srawung Budaya (1)

Srawung Kaum Muda Lintas Agama di Surakarta
Srawung Kaum Muda Lintas Agama di Surakarta
Tokoh-tokoh agama hadir dalam Srawung Kaum Muda Surakarta
Tokoh-tokoh agama hadir dalam Srawung Kaum Muda Surakarta

 

 

 

 

 

Tinggalkan Pesan