Yang datang dari surga

PEKAN PASKAH II (P)

Santo Petrus Kanisius; Santa Zita; Santa Lydia Longley

Bacaan I: Kis. 5:27-33

Mazmur: 34:2.9.17-18.19-20; R: 7a

Bacaan Injil: Yoh. 3:31-36

Siapa yang datang dari atas adalah di atas semuanya; siapa yang berasal dari bumi, termasuk pada bumi dan berkata-kata dalam bahasa bumi. Siapa yang datang dari surga adalah di atas semuanya. Ia memberi kesaksian tentang apa yang dilihat-Nya dan yang didengar-Nya, tetapi tak seorangpun yang menerima kesaksian-Nya itu. Siapa yang menerima kesaksian-Nya itu, ia mengaku, bahwa Allah adalah benar. Sebab siapa yang diutus Allah, Dialah yang menyampaikan firman Allah, karena Allah mengaruniakan Roh-Nya dengan tidak terbatas. Bapa mengasihi Anak dan telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya. Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, tetapi barangsiapa tidak taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka Allah tetap ada di atasnya.”

Renungan

Salah satu ukuran untuk melihat kedalaman iman kita adalah kemurahan hati kita. Kita murah hati, bukan karena kita sudah memiliki berlimpah – limpah, namun karena kita bukan dari dunia ini, kita tidak terlekat pada harta benda dunia ini: Siapa yang datang dari atas ada di atas semuanya. Sebaliknya, bila kita masih memperebutkan hidup dan fasilitas harta benda dunia, berarti kita sebenarnya belum sungguh beriman, belum sungguh rohani: siapa yang berasal dari bumi, termasuk pada bumi dan berkata-kata dalam bahasa bumi. Itulah kesaksian Yohanes Pembaptis tentang, Yesus itu juga yang menjadi ukuran bagi hidup kita mengikuti Tuhan Yesus.

Mengimani bahwa bersatu dengan Tuhan Yesus berarti kita bukan dari dunia ini memberikan kebebasan sejati. Kita memang masih hidup di dunia ini, dan bekerja mengurus dunia ini, namun tidak tenggelam dalam urusan dunia. Kita senantiasa sadar betapa sementara kita. Kita dicipta untuk keabadian, sebagai citra Allah yang sadar bahwa kita berasal dari atas. Kesadaran inilah yang membuat hidup di dunia, namun tidak ditentukan oleh dunia. Jika kita masih tenggelam dalam urusan dunia tak mungkin kita mengikuti Tuhan Yesus sepenuhnya.

Ya Tuhan, aku masih seperti yang dulu, mencintai-Mu sampai akhir hidupku. Kesetiaan yang kuberikan hanya untuk diri-Mu, melebihi ketertarikanku akan dunia ini, karena aku tahu Engkaulah dambaan hatiku. Amin.

 

Sumber: Ziarah Batin 2017

1 komentar

  1. Terimakasih untuk kiriman bacaan dilengkapi dengan renungan yang bermutu. Salam dariku, Anton Bele, katekis di Kupang, Timor, NTT.

Tinggalkan Pesan