Nikodemus

PEKAN PASKAH II (P)

Santo Kletus dan Marselinus, Paus dan Martir

Bacaan I: Kis. 5:17-26

Mazmur: 34:2-3.4-5.6-7.8-9; R: 7a

Bacaan Injil: Yoh. 3:16-21

Dalam percakapan-Nya dengan Nikodemus, Yesus berkata: “Begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia. Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah. Dan inilah hukuman itu: Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat. Sebab barangsiapa berbuat jahat, membenci terang dan tidak datang kepada terang itu, supaya perbuatan-perbuatannya yang jahat itu tidak nampak; tetapi barangsiapa melakukan yang benar, ia datang kepada terang, supaya menjadi nyata, bahwa perbuatan-perbuatannya dilakukan dalam Allah.”

Renungan

Manusia sering begitu gampang melarang dan menghukum. Apakah ini bukan karena gambaran mereka akan Allah sebagai penghukum? Gambaran ini pula yang membuat orang menghayati agamanya sebagai agama hukum dan teror yang membawa ketakutan. Padahal: Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia melainkan untuk menyelamatkannya. Itulah sebabnya Kitab Suci kita disebut Injil atau kabar sukacita. Kita patut bersukacita karena Tuhan pertama-tama bukan mau menyatakan hukum-Nya, namun menganugerahkan Putra-Nya: Begitu besar kasih Allah kepada dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal. Selanjutnya kabar sukacita itu karena Allah mau menyelamatkan, bahkan memberikan hidup abadi kepada orang yang percaya kepada Putra-Nya: supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.

Percaya kepada Yesus berarti mau hidup sejati dalam sukacita, dalam terang injil agar dapat sungguh-sungguh mengikuti Yesus secara konsekwen dengan seluruh hidup kita. Kita tidak lagi hidup sesuka hati kita, tetapi selalu memeriksanya dalam terang injil setiap hari, supaya menjadi nyata bahwa perbuatan-perbuatan kita dilakukan dalam Allah. Hidup seperti ini memberi kita sukacita mendalam yang membawa damai. Bukan seperti sukacita yang diberikan oleh dunia, sukacita sekejap yang sering diiringi sesal yang tidak membawa damai.

Membaca, memahami, melaksanakan sabda Tuhan setiap hari juga mendorong kita untuk hidup menggereja, dalam sukacita keluarga Tuhan Yesus sendiri. Kepercayaan seperti itu membebaskan kita dari rasa takut untuk mewartakan keselamatan yang kita terima dari Tuhan Yesus seperti para rasul. Kita tidak takut lagi akan dunia dan segala kuasanya yang membawa maut, karena kuasa Tuhan yang sudah mengalahkan dunia dengan kebangkitan-Nya. Dan lebih- lebih karena kita merasakan bimbingan Roh Kudus dan penyertaan Tuhan Yesus yang hidup.

Ya Tuhan, begitu besar kasih-Mu akan dunia ini sehingga Engkau mengutus Putra-Mu menyelamatkan kami. Sebagai tanda syukurku dan bukti sukacitaku, aku mau berbagi kasih dan sukacita yang kurasakan kepada sesamaku. Amin.

1 komentar

Tinggalkan Pesan