Mgr Suharyo didampingi (kiri) Vikjen KAJ Pastor Samuel Pangestu Pr dan (kanan) Kepala Paroki Katedral Santa Maria Diangkat ke Surga Pastor Albertus Hani Rudi Hartoko SJ
Mgr Suharyo didampingi (kiri) Vikjen KAJ Pastor Samuel Pangestu Pr dan (kanan) Kepala Paroki Katedral Santa Maria Diangkat ke Surga Pastor Albertus Hani Rudi Hartoko SJ

Mgr Ignatius Suharyo mengatakan, korupsi dan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Putaran Kedua DKI Jakarta menjadi inti pesan perayaan Paskah 2017, maka sesuai Tema APP KAJ 2017, “makin adil makin beradab,’  Uskup Agung Jakarta itu menghimbau umatnya untuk melakukan upaya stop korupsi dan menyukseskan Pilkada DKI Jakarta.

Mgr Suharyo menyampaikan Pesan Paskah 2017 itu di lantai dua Gedung Pelayanan Pastoral KAJ, 16 April 2017. Uskup agung yang didampingi Vikjen KAJ Pastor Samuel Pangestu Pr dan Kepala Paroki Katedral Santa Maria Diangkat ke Surga Pastor Albertus Hani Rudi Hartoko SJ itu berbicara di depan puluhan media cetak dan elektronik.

Seraya mengajak umatnya untuk “menyelesaikan pekerjaan dengan mengutamakan kejujuran” dan “menjauhkan praktik pelayanan yang menodai nilai-nilai keadaban publik,” Mgr Suharyo menyebut tiga pilar yang diharapkan bisa mencegah praktik korupsi, yakni negara, bisnis dan warga masyarakat (civil society).

Mgr Suharyo menyebut satu contoh yakni DPR, yang bertugas membuat undang-undang yang bisa mencegah korupsi. “Kenyataan, UU KPK yang mau direvisi, apakah ini menjadi suatu hal yang membawa kebaikan atau justru membuat korupsi semakin menjamur?” tanya uskup.

Uskup agung juga menyebu soal tax amnesty yang tidak serta merta dilakukan oleh pelaku ekonomi dan pengusaha dan ‘peselingkuhan’ antara lembaga negara serta pilar pelaku bisnis. “Kasus KTP elektronik (eKTP) menjadi contoh paling aktual. Sorotan kasus mega korupsi e KTP menjadi fakta bahwa antara pilar itu ditengarai ‘berselingkuh’ sehingga menyebabkan kerugian negara yang sangat memprihatinkan.”

Pilkada Putaran Kedua DKI Jakarta kini dihadapkan kepada isu radikalisme yang berpotensi mengacaukan keadaan, bahkan menggagalkan hasil Pilkada. Namun, enggan menjelaskan lebih detail tentang radikalisme, Mgr Suharyo hanya mengutip apa yang pernah dikatakan Ketua Umum PP Muhammadyah, Ketua NU, dan Imam Besar Istiqal Jakarta bahwa Islam tidak mengenal kekerasan, tapi memberikan kedamaian.

Dikatakan, “Islam tidak mengajarkan kekerasan, tapi Islam menjunjung tinggi kedamaian.” Maka, dalam kaitan dengan Pilkada DKI Jakarta, Mgr Suharyo berharap seluruh masyarakat harus menerima siapa pun yang terpilih dengan menganut sistem demokrasi, pemilihan suara terbanyak. “Semua pihak harus dengan lapang dada menerima hasil Pilkada DKI Jakarta itu.”

Mgr Suharyo mengajak umat Katolik untuk tetap tenang, berpikir jernih, dan menyikapi keadaan. Dalam imbauan yang diberikan kepada seluruh awak media yang hadir, Uskup Agung Jakarta meminta umat Katolik yang memiliki hak memilih, menyiapkan waktu untuk menggunakan hak pilih tersebut.

“Umat Katolik mengedepankan kebhinekaan, selanjutnya menjaga keutuhan NKRI berdasarkan Pancasila,”’ kata Mgr Suharyo dalam imbauan tertulis itu. (Konradus R Mangu)

 

 

 

 

 

Tinggalkan Pesan