Iwan5

Di awal tahun 90-an ketika saya belajar bahasa Tetun di desa Soibada di Timor Timur (Timor Leste sekarang) dalam rangka tugas di Dili, ada pertemuan di desa itu dan hadir dua orang tokoh Fretelin. Kedua tokoh tersebut menceritakan pengalaman pada waktu mereka sekolah di Soibada. Di Soibada dahulu ketika Timor Timur masih di bawah Portugis adalah tempat kolese Jesuit yang besar, dan menghasilkan banyak tokoh-tokoh yang memimpin Timor Timur.

Menarik bagi saya adalah ketika kedua tokoh tersebut bercerita kenangan selama sekolah di tempat itu setiap kali menyebut nama guru-guru yang mengajar, kedua tokoh itu selalu membungkuk hormat. Sebuah kejadian yang amat langka dan belum pernah saya lihat bahwa ada orang yang menyebut nama guru-guru mereka dengan membungkuk hormat. Dalam perbincangan dengan kedua tokoh itu, mereka melakukan hal itu memang seharusnya begitu karena bagi mereka guru-guru itulah yang mengenalkan mereka pada dunia dan mimpi-mimpi untuk mengabdi pada dunia. Tanpa guru-guru di kolese ini mereka tidak akan menjadi “siapa-siapa”.

Kisah tentang guru-guru pada masa lalu selalu menjadi kisah-kisah yang dikenang dengan penuh syukur dan penuh hormat. Guru-guru di kampung-kampung pada masa lalu bukanlah seorang pendidik dan pengajar mata pelajaran bagi peserta didik di sekolah akan tetapi mereka adalah guru-guru kehidupan bagi masyarakat. Guru adalah sumber pengetahuan dan kebijaksanaan bagi masyarakat, mereka adalah pemecah masalah dalam masyarakat. Karena apa yang dilakukannya maka mereka mendapatkan tempat terhormat di masyarakat. Ketika seseorang disebut sebagai guru maka yang terbayang adalah sosok yang berilmu dan bijaksana, sosok yang “mumpuni”. Para guru itu rasanya tidak pernah disibukkan dengan tuntutan kurikulum dan tidak pula disibukkan dengan sertifikasi, namun apa yang dilakukan telah melampaui sertifikasi-sertifikasi dan apa yang dihasilkan melampaui mereka yang disibukkan oleh kurikulum.

Guru-guru pada masa lampau tidak perlu sertifikasi untuk mendudukkan diri mereka ditempat terhormat di masyarakat. Mereka tidak perlu menunjukkan bukti sertifikasi dari keahlian agar diterima sebagai guru di tengah masyarakat. Para guru di masa lampau tidak pernah melihat dan menghayati pekerjaan guru sebagai sebuah profesi. Guru adalah hidup mereka. Keseharian mereka tidak lepas sebagai guru, sejak membuka mata di awal hari hingga menutup mata di akhir hari hidup mereka adalah guru.

Pekerjaan apapun sekarang dituntut sebuah sertifikat untuk mendapatkan pengakuan atas keahliannya. Sertifikasi adalah sebuah usaha untuk menempatkan orang-orang menjadi professional pada profesinya. Guru mendapatkan sertifikasi karena guru adalah profesi dan yang diukur adalah kemampuan mengajar dalam bahasa kerennya transfer ilmu. Belajar dari pengalaman guru-guru pada masa lampau sertifikasi setinggi apapun tidak akan menghasilkan sosok-sosok yang hebat karena pekerjaan itu hanya profesi saja. Sosok yang hebat muncul dari mereka yang melihat dan menghayati “pekerjaan” mereka adalah hidup mereka.

Tidak banyak lagi sosok-sosok di negeri ini yang melihat dan menghayati “pekerjaan” sebagai hidup mereka. Padahal sosok-sosok itulah yang dibutuhkan negeri ini.

Catatan di Penghujung Hari, 7 April 2017

Iwan Roes

Tinggalkan Pesan