Jews-try-to-stone-Jesus

PEKAN PRAPASKAH V (U)

Santo Yohanes Baptista de la Salle; Beato Henry Walpole

Bacaan I: Yer. 20:10-13

Mazmur: 18:2-3a.3bc-4.5-6.7; R:7

Bacaan Injil: Yoh. 10:31-42

Sekali peristiwa orang-orang Yahudi mengambil batu untuk melempari Yesus. Kata Yesus kepada mereka: “Banyak pekerjaan baik yang berasal dari Bapa-Ku yang Kuperlihatkan kepadamu; pekerjaan manakah di antaranya yang menyebabkan kamu mau melempari Aku?” Jawab orang-orang Yahudi itu: “Bukan karena suatu pekerjaan baik maka kami mau melempari Engkau, melainkan karena Engkau menghujat Allah dan karena Engkau, sekalipun hanya seorang manusia saja, menyamakan diri-Mu dengan Allah.” Kata Yesus kepada mereka: “Tidakkah ada tertulis dalam kitab Taurat kamu: Aku telah berfirman: Kamu adalah allah? Jikalau mereka, kepada siapa firman itu disampaikan, disebut allah—sedang Kitab Suci tidak dapat dibatalkan—, masihkah kamu berkata kepada Dia yang dikuduskan oleh Bapa dan yang telah diutus-Nya ke dalam dunia: Engkau menghujat Allah! Karena Aku telah berkata: Aku Anak Allah? Jikalau Aku tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan Bapa-Ku, janganlah percaya kepada-Ku, tetapi jikalau Aku melakukannya dan kamu tidak mau percaya kepada-Ku, percayalah akan pekerjaan-pekerjaan itu, supaya kamu boleh mengetahui dan mengerti, bahwa Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa.” Sekali lagi mereka mencoba menangkap Dia, tetapi Ia luput dari tangan mereka. Kemudian Yesus pergi lagi ke seberang Yordan, ke tempat Yohanes membaptis dahulu, lalu Ia tinggal di situ. Dan banyak orang datang kepada-Nya dan berkata: “Yohanes memang tidak membuat satu tanda pun, tetapi semua yang pernah dikatakan Yohanes tentang orang ini adalah benar.” Dan banyak orang di situ percaya kepada-Nya.

Renungan

Kita hidup dalam dunia dengan pengaruh kuat dosa. Panggilan kita bukan hanya untuk tidak berdosa dan berbuat baik, tetapi dipanggil sebagai nabi untuk menyatakan kebenaran Tuhan. Namun, hal itu tidak mudah, karena kita akan ditantang bahkan dikejar-kejar oleh orang-orang yang masih betah tinggal dalam dosa. Itulah yang dialami Yeremia dan Yesus.

Yesus bahkan mau dilempari batu oleh orang-orang Yahudi karena Dia menyatakan Allah yang mengakui manusia sebagai anak-Nya, Allah yang mau ikut campur dalam kehidupan kita sehari-hari. Allah yang demikian ini “berbahaya” bagi mereka. Kalau Allah begitu dekat dengan setiap orang dan setiap permasalahan, mereka tak lagi bisa berkuasa, tak lagi bisa memutarbalikkan perkara demi kepentingan mereka sendiri. Maka, dengan alasan “saleh” membela kemuliaan Allah, mereka menuduh Yesus menghujat Allah karena mengaku anak Allah, menyebut Allah sebagai Bapa-Nya.

Kita pun perlu waspada dengan kecenderungan kesalehan kita yang membuat kita merasa memiliki kebenaran, memiliki Gereja, bahkan memiliki Tuhan. Kecenderungan yang membuat kita tidak melihat kebaikan orang lain, apalagi bila orang itu melanggar “daerah kekuasaan kita”. Kecenderungan ini bukan hanya membuat kita tak mau berdialog dan bekerja sama dengan yang lain, tapi juga membuat kita tidak terbuka untuk bekerja sama dengan saudara seiman. Kita juga tidak terbuka menerima dan mendukung wajah-wajah baru yang mau melayani dan berbuat baik bagi kita.

Ya Tuhan, teguhkanlah aku selalu agar tidak takut menyatakan kebenaran-Mu walau harus menanggung risiko ditolak dan disingkirkan orang. Aku percaya, bersama-Mu aku tidak akan tersandung dan jatuh. Amin.

Tinggalkan Pesan