Paus bertemu pimpinan Muslim dari Inggris
Paus Fransiskus bertemu dengan Kardinal Vincent Nichols bersama dengan Moulana Muhammad Shahid Raza dan Moulana Syed Ali Raza Rizvi, dua pemimpin Muslim dari Inggris yang mengikuti audiensi di Vatikan 

Paus Fransiskus bertemu dengan Kardinal Vincent Nichols dan empat pemimpin Muslim dari Inggris yang datang untuk memperlihatkan hubungan antaragama yang sangat mengakar di antara umat beragama yang berbeda di Inggris saat ini. Pertemuan itu berlangsung tanggal 5 April 2017.

Selama tiga dekade terakhir, Kardinal Nichols dan para pemimpin Katolik lainnya telah berupaya mengembangkan ikatan yang kuat dengan umat Muslim lokal. Beberapa prakarsa praktis dan akar rumput yang telah membuahkan hasil adalah pengaturan bank makanan bersama bagi yang orang-orang yang membutuhkan dan penyambutan keluarga-keluarga pengungsi yang baru tiba.

Dua minggu yang baru lalu, Kardinal Nichols bersama Uskup Agung Canterbury ditambah para pemimpin Muslim dan Yahudi di London mencela serangan teror di Gedung Parlemen. Saat doa dibacakan untuk para korban, kardinal membacakan pesan Paus Fransiskus yang mengungkapkan belasungkawa kepada para keluarga yang berduka dan solidaritas dengan seluruh bangsa.

Sebelum audiensi paus di Vatikan, Philippa Hitchen dari Radio Vatikan duduk bersama Kardinal Nichols dan dua pemimpin Muslim dalam delegasi itu, Muhammad Shahid Raza, yang berasal dari India, dan Syed Ali Raza Rizvi, yang berasal dari Lahore di Pakistan. Mereka menyoroti pentingnya berjuang bersama untuk memerangi kebencian, intoleransi dan kekerasan atas nama agama.

Moulana Muhammad Shahid Raza mulai dengan mengatakan bahwa mereka membawa pesan “terima kasih dan ucapan syukur atas kebaikan dan simpati yang umat Muslim selalu terima dari Vatikan.” Dia juga menyoroti “penghargaan besar” mereka terhadap Kardinal Nichols dan Gereja Katolik di Inggris yang membuat audiensi itu bisa terjadi.

Kardinal itu mencatat bahwa para pemimpin Muslim seperti Muhammad Shahid Raza telah mengupayakan hubungan antaragama di Inggris selama 30 tahun terakhir dan dia berharap audiensi paus itu bisa mendorong upaya itu. Kardinal juga berterima kasih kepada Paus untuk pesan solidaritas yang Paus sampaikan menyusul insiden di Westminster dua pekan lalu.

Moulana Syed Ali Raza Rizvi mengatakan, “kalau orang melihat realitas iman dari kebersamaan para pemimpin,” nampak jelas bahwa “apa yang dilakukan beberapa penjahat berbeda dengan iman yang dikatakan para pemimpin agama.” Bersama-sama menyepakati sesuatu, katanya, “memiliki refleksi yang sangat positif” yang menunjukkan bahwa iman tidak memecahkan, melainkan menyatukan orang.

Dia melanjutkan dengan mencatat bahwa “di masa-masa sulit, orang mencari umat agama” dan proyek-proyek yang dikerjakan bersama umat Muslim dan Kristen, terutama terhadap pengungsi “memberikan citra iman yang sangat positif di abad ke-21.” Dalam beberapa tahun terakhir, lanjutnya, kardinal telah membantu “bukan hanya membawa kita bersama-sama tapi menciptakan persahabatan, dan persahabatan itulah telah membuat kita semakin saling menghargai satu sama lain dan menghargai umat-umat kita.”

Kardinal Nichols mengatakan, dia bersama Uskup Agung Canterbury Mgr Justin Welby berupaya “menciptakan platform yang bisa membuat suara Muslim didengar di Inggris.” Menyusul serangan teror baru-baru ini, kata kardinal, “umat Muslim di seluruh negeri berdiri dan berkata tidak atas nama kami, Islam adalah agama perdamaian dan kami mencela tindakan-tindakan ini” tapi suara itu yang tidak didengar. Kardinal berharap agar salah satu hasil nyata dari audiensi dengan paus itu adalah “semakin kerasnya suara ini di tengah-tengah kita.”(pcp berdasarkan Radio Vatikan)

Tinggalkan Pesan