IMG_6577

Sebuah pesan wa beredar: “Suster Agnes Iswatini OP sekitar 30 menit yang lalu dipanggil Tuhan. Sementara kita menunggu kabar resmi dari Suster Anna Marie OP, harap siap-siap untuk ikut melayat ke Cimahi, mengingat beliau sungguh istimewa bagi Keluarga Dominikan Indonesia.”

Benar, Suster Agnes OP yang lahir 27 Juli 1931 meninggal dunia pada usia 86 tahun di Rumah Sakit Ngesti Waluyo Parakan, Jawa Tengah, 3 April 2017, pukul 10.10 WIB. Setelah Misa di Biara Susteran Santo Dominikus Rawaseneng, tempat suster itu berkarya sebagai pengajar Spiritualitas Dominikan bagi para novis dan staf novisiat sejak 2009, pukul 20.00 di hari yang sama jenazah Suster Agnes dibawa ke Cimahi, Jawa Barat.

Suster Agnes dimakamkan 5 April 2017 di Pemakaman Para Suster OP di belakang Biara Santa Maria Cimahi setelah Misa Requiem yang dipimpin Uskup Bandung Mgr Antonius Subianto Bunjamin OSC. Konselebran Misa adalah Vikaris Yudisial Keuskupan Bandung Pastor Paulus Wirasmohadi Soerjo Pr, Kepala Paroki Santo Ignatius Cimahi Pastor Yohanes Djino Widyo Suhardjo OSC, dan Ekonom Keuskupan Agung Pontianak Pastor Andreas Kurniawan OP.

Sekitar 250 orang, antara lain keluarga Suster Agnes dari Jakarta dan Bogor, para suster, frater, imam dan awam Dominikan, serta wakil-wakil suster kongregasi lain, juga wakil frater Biara Rawaseneng, dan umat Paroki Cimahi serta mantan murid-murid Suster Agnes menghadiri Misa dan pemakaman itu. Sebanyak 47 pimpinan kongregasi di Indonesia dan Keluarga Koptari (Konferensi Pimpinan Tarekat Religius Indonesia) juga menyertai pemakaman itu dengan tanda kenangan belasungkawa.

Uskup Bandung, dalam homili, terkesan dengan julukan yang berulang kali disampaikan Superior Jenderal Kongregasi Suster-Suster Santo Dominikus (OP) di Indonesia Suster Maria Anna Marie OP ketika berbicara sebelum dan saat kematian bahkan dalam Misa sebelum pemakaman yakni, “Suster Agnes itu adalah tokoh spiritual.”

Memang, menurut Mgr Antonius, ada suster yang menyatakan dirinya bukan religius tapi spiritual, yang berusaha mendekatkan diri dengan Tuhan, dan berharap Paus Fransiskus membuat Gereja lebih spiritual.

Kehadiran Suster Agnes, menurut uskup, merupakan kesaksian nyata. “Dia bukan hanya religius tetapi spiritual. Jubah yang dipakainya bukan hanya identitas dirinya sebagai suster tetapi hidupnya spiritual.”

Paus Yohanes Paulus II dalam dokumen Vita Consecrata mengatakan, religius mendapat rahmat istimewa untuk intim atau dekat secara istimewa dengan Allah. “Rahmat ini tidak mau disia-siakan oleh Suster Agnes, tapi diungkapkan dengan hidup spiritualnya,” kata Mgr Antonius.

Mendengar Suster Agnes bisa pindah tugas lebih dari satu kali setahun, Uskup Bandung menegaskan, begitu gampang berpindah tugas berarti bisa mengalahkan hidup jasmani dan material dengan hidup spiritual. “Banyak orang tinggal lama pada satu posisi karena kurang spiritual. Kesaksian ini menunjukkan betapa ringan dia berpindah dari satu fungsi ke fungsi lain, dari satu lokasi ke wilayah lain.”

Menurut uskup, Suster Anges bukan hanya mendalami Spiritualitas Santo Dominikus di Roma, 1981, tetapi menghidupi dan mengalaminya. “Maka yang diyakini Dominikan sebagai ‘comtemplare aliis tradere’ bukan hanya semboyan dan seruan yang terus digaungkan, tapi dihidupi. Yang direnungkan bersama Allah dikontemplasikan, dan yang dihidupi dan dikaryakan itulah yang dibawa kepada Tuhan.”

Uskup bangga mendengar kehendak Suster Agnes di hari-hari terakhir hidupnya untuk diperkenankan tinggal di Biara Rawaseneng serta tiga kata tentang Suster Agnes yang para suster ungkapkan dalam refleksi. Kedekatan dengan Rawaseneng adalah juga simbol kontemplasi untuk selalu dihidupkan, dan keutamaan-keutamaan dan nilai-nilai yang dialami para suster tidak lain lahir dari hidup spiritualnya.

Ditinggalkan oleh inspirator

Menurut Suster Anna Marie OP, kongregasinya merasa ditinggalkan oleh sang inspirator, “pribadi yang menjadi guru dan tokoh spiritual kami, yang senantiasa memberikan inspirasi baru dalam semangat Santo Dominikus, sosok ibu kami, tokoh yang menjadi teladan dalam menghidupi dan memperjuangkan semangat hidup Santo Dominikus dalam lima pilar spiritualitas kami.”

Suster Anna membenarkan, beberapa hari sebelum dipanggil Tuhan, dia mengizinkan permohonan ‘yang sungguh rendah hati” dari Suster Agnes, “apakah boleh saya menyelesaikan tugas di Rawaseneng sampai yang terakhir?”

Suster Agnes pernah berkarya sebagai guru SD, SMP, SGA, dan setelah selesai pendidikan Ilmu Pasti dan Pengetahuan Alam dari IKIP di tahun 1964, suster itu mengajar SMA sampai tahun 1967. Dia pernah juga menjadi pemimpin novisiat, pemimpin misi dan pemimpin biara, dan di rumah pimpinan umum di Pejaten, dia pernah menjadi pengurus rumah tangga, ekonom, provinsial dan dan pimpinan umum kongregasi. Ketika jenazah dihantar ke pemakaman dari kapel biara, para pelajar, guru dan karyawan Persekolahan Santa Maria Cimahi membentuk pagar betis hingga pemakaman.

Suster Anna percaya, Keluarga Besar Pertapaan Trappist Santa Maria Rawaseneng merasakan kehilangan luar biasa, “karena Suster Agnes sering diminta membantu menerjemahkan apa yang dikatakan jenderal mereka dari Belanda saat visitasi di Rawaseneng.”

Suster Agnes, lanjut Suster Anna, sungguh seorang Dominikanes “yang melayani dan memberikan contoh untuk kita semua agar melanjutkan warisan Santo Dominikus yang menjadi keutamaan kita, mengikuti Yesus sang kebenaran, sang pewarta, melalui tindak tanduk, tutur kata.”

Suster Agnes, lanjut superior jenderal kongregasi itu, menyampaikan pesan terakhir dengan mengatakan, “Mari kita tetap mengutamakan kehidupan lima pilar. Kongregasi kita  harus tetap hidup dan dikembangkan.” Suster Anna menyebutnya sebagai “cahaya bagi kami, khususnya dalam hidup lima pilar, dia selalu mengingatkan kita untuk hidup doa, studi, komunitas, kaul-kaul dan observansi monastik. Itu selalu dipesankannya.”

Pemeran penting dalam kemandirian Suster OP di Indonesia

Suster-Suster Dominikan Keluarga Kudus Neerbosch, Nijmegen, Belanda, juga belangsung kawah atas meninggalnya Suster Agnes yang pernah operasi otak di Den Haag. “Kalian merasa kehilangan, kami pun demikian, karena dia, Suster Agnes, adalah Dominikanes sejati, pribadi bijaksana dan hangat, penuh kenangan dan sangat menyenangkan,” tulis Pemimpin Kongregasi Suster Dominikan dari Belanda, Suster Angele Schamp OP dari Neerbosch.

Mendengar berita kematian, Suster Angele teringat proses Indonesia menjadi mandiri dan berpisah dengan Neerbosch. Suster Agnes bekerja keras untuk kongregasi di Indonesia, dia “memainkan peranan sangat penting dalam kemandirian suster-suster Santo Dominikus di Indonesia dan akhirnya diterima di Keuskupan Bandung. Suster Agnes telah menghidupi warisan Santo Dominikus di Indonesia, kamu saudaraku harus melanjutkannya …”

Suster Gabriel Kelly OP dari Australia sangat sedih mendengar berita itu. “Tentu suster-suster Indonesia merasakan kehilangan, karena beliau ini sangat istimewa. Dalam kemandirian di Indonesia tahun 1987 beliau memperjuangkan, akhirnya masuklah di Keuskupan Bandung,” tulis suster.

Dikatakan Suster Agnes sangat ramah, penuh kehangatan dan bijaksana. “Tiga puluh tahun lalu, Agnes mengantar saya berkunjung di Indonesia. Kita bersama-sama memperjuangkan JPIC untuk zona Indonesia dan zona Australia. Dia memiliki bela rasa yang sangat tinggi, peduli dengan orang kecil. Dia memperjuangkan keadilan, dia memperhatikan nelayan.”

Suster Kelly dan Suster Anna Marie sama-sama mengatakan Suster Agnes sungguh mengagumkan, karena “engkau selalu berbicara tentang Tuhan dan dengan Tuhan, kapan pun juga!

Sadar akan perlunya studi tentang Ordo, kata koordinaor Dominikan Awam Indonesia Theo Atmadi, Suster Agnes menerjemahkan beberapa buku yang hingga kini tetap dipakai sebagai sarana dasar pengenalan, yaitu buku “Santo Dominikus. Pendiri Ordo Pengkhotbah” oleh Dr Ch Lambermond OP, “Spiritualitas Dominikan” karya William A Hinnebusch OP, dan Santa Katarina Siena.

Seraya meminta maaf atas hal-hal yang kurang berkenan dan “nakal-nakal” yang selalu diingatkan dengan kasih ibu yang selalu memberikan sapaan dan komunikasi yang baik, Suster Anna Marie OP mengucapkan “Selamat Jalan Suster Agnes, teladanmu yang sejati menjadi cermin bagi kami untuk melanjutkan dan menghidupkan serta mengembangkan kongregasi kami.”(paul c pati)

IMG_6494

IMG_6535

IMG_6592

IMG_6601

IMG_6614

IMG_6641IMG_6649IMG_6518 IMG_6557

IMG_6518

1 komentar

Tinggalkan Pesan