Lokakarya HAK (2)

Kaderisasi dan pendidikan dialog bagi calon imam itu penting, karena mereka adalah calon pemimpin umat yang nantinya menentukan wajah Gereja yang berdialog. Selain itu, perlu membangun jejaring antarpegiat HAK sebagai sarana saling berbagi informasi dan saling meneguhkan, dan perlu kaderisasi dialog bagi OMK perlu agar mereka memiliki semangat dialog sejak muda.

Itulah rekomendasi Lokakarya Komisi HAK Regio Jawa di Semarang, 17-19 Maret 2017, yang juga dihadiri Ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Konferensi Waligereja Indonesia (Komisi HAK KWI) Mgr Yohanes Harun Yuwono.

Dalam paparannya, Uskup Tanjungkarang itu menyimpulkan dan memegang teguh bahwa Allah mencintai semua orang dari latar belakang budaya atau agama apapun dengan cinta yang sama besarnya. “Tuhan tidak membedakan orang. Tuhan tidak mengenal diskriminasi,” kata uskup.

Ditegaskan bahwa manusia tak bisa memilih dilahirkan, apalagi memilih orangtua, warna kulit, kampung halaman, etnis, bangsa tertentu. “Orangtua tidak bisa memilih anak, kita lahir semata karena kehendak Tuhan, dan mendiskriminasi seseorang berarti mendiskriminasi Allah sendiri.”

Yesus, yang sangat ramah pada siapa pun, lanjut uskup, adalah teladan bergaul dengan siapa pun. “Dalam Kitab Suci diceritakan, Yesus bergaul dengan siapa pun, bukan hanya dengan orang yang berkehendak baik, tetapi juga orang yang tidak berkehendak baik,” kata uskup.

Saat ini, tegas Mgr Yuwono, tak seorang pun meragukan kenyataan bahwa kedamaian di bumi bergantung pada kedamaian di antara para pemeluk agama. Terlebih di Indonesia, agama sangat mungkin dibawa ke dalam dunia politik, dunia bisnis. Dunia apapun bisa dibungkus dengan agama.

“Karena itu, penganut agama apa pun yang tidak bisa menghayati bahwa orang lain adalah saudara dan saudari yang harus dihormati, sangat gampang diadu domba,” kata Uskup Tanjungkarang seraya menambahkan, tidak akan ada damai di antara umat manusia di dunia ini tanpa ada damai di antara agama-agama dan para pemeluknya yang niscaya berada dalam kebhinekaan.

Lebih lanjut, Mgr Yuwono menyoroti pentingnya pendidikan dialog bagi anak-anak muda. “Kalau mau hidup baik, peliharalah anak-anak muda. Kalau anak-anak muda hidupnya rukun, bisa menghargai orang lain dan hidup sehat, pikiran dan perbuatannya sehat, orang-orang tua juga akan ikut.”

Mgr Yuwono berharap ketua-ketua Komisi HAK dan pegiat HAK dari masing-masing keuskupan se-Regio Jawa yang hadir “membangun proyek kemanusiaan bersama dengan orang lain dari berbagai latar belakang agama di tempat masing-masing, seperti gotong royong, aksi melawan narkoba, aksi melawan korupsi, aksi sanitasi lingkungan, atau menanam pohon bersama.”

Dalam lokakarya itu, masing-masing keuskupan membagikan pengalaman kerasulan HAK-nya. Beberapa hal menonjol untuk dihidupi adalah pentingnya menjalin relasi dengan tokoh-tokoh agama setempat, kaderisasi dialog untuk kaum muda dan maraknya politisasi agama yang mengancam kerukunan kehidupan bermasyarakat.

Peserta juga mendengarkan temuan dari Wakil Sekretaris Jenderal PBNU Imam Pituduh tentang maraknya fundamentalisme dan terorisme di Indonesia, yang sangat strategis, sehingga banyak kekuatan ingin menancapkan kekuasaannya dengan menggunakan isu-isu agama. “Indonesia menjadi seksi bagi dunia. Saking seksinya, Indonesia menjadi incaran empuk bagi dunia sejak zaman perjuangan dulu sampai sekarang, tidak habis-habis,” katanya.

Fundamentalisme agama sudah masuk sekolah-sekolah dan media informasi, maka semangat mengampanyekan Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI, dan UUD 1945 harus terus dihidupkan. “Cinta tanah air sebagian dari iman. Jadi iman kita diuji sejauh mana kita berkontribusi kepada bangsa dan negara,” katanya.

Pengasuh Pondok Pesantren Al Ishlah Semarang Kiai Budi Harjono mengatakan, agama bukan hanya nampak pada tataran kemegahan jubah, indahnya pernik tasbih, dan mahalnya sajadah indah, tetapi sebenarnya adalah bentuk pelayanan kemanusiaan secara universal. “Kita sama-sama sejiwa di dalam melayani kemanusiaan,” katanya.

Terkait relasi antarumat manusia, Kiai Budi mengatakan, manusia hanya beda tubuh, tetapi satu jiwa. “Kau adalah aku yang lain. Kau adalah aku sebagai sejiwa,” katanya.

Selain refleksi dan studi, lokakarya juga diisi dengan kunjungan ke Masjid Agung Jawa Tengah.(Lukas Awi Tristanto)

Lokakarya HAK (3)

Lokakarya HAK

Lokakarya HAK (5)

Lokakarya HAK (8)

 

 

 

 

Tinggalkan Pesan