Duta Vatikan1

Tahbisan Uskup selalu dirayakan dalam konteks liturgi Ekaristi yakni sakramen, maka semua umat diyakinkan bahwa yang sedang terjadi saat itu merupakan karya Allah dan menjadi bukti campur tangan Allah demi kebaikan Gereja milik-Nya. Kenyataan itu hanya bisa disadari jika semuanya dipandang “dengan kacamata iman.”

Memiliki iman, tulis Surat Ensiklik Lumen Fidei dari Paus Fransiskus, berarti “memiliki mata Yesus sendiri, yakni cara pandang-Nya sendiri,” seraya berharap uskup baru dan seluruh umat keuskupan saling memandang dengan pandangan iman seperti itu.

Sayangnya, cara pandang itu “kurang diterapkan di komunitas-komunitas Kristiani, sehingga yang diutamakan adalah cara pandang manusiawi belaka.” Akibatnya, umat sering mempersoalkan asal usul dan kelompok etnis uskup terpilih, “apakah uskup itu projo atau biarawan, apa latar belakang studinya, bagaimana pelayanannya selama ini, kelebihan dan kekurangannya baik yang benar maupun yang difitnahkan kepadanya.”

Duta Vatikan untuk Indonesia Uskup Agung Antonio Guido Filipazzi mengingatkan itu dalam homili Misa Tahbisan Uskup Sintang Mgr Samuel Oton Sidin OFMCap di Stadion Baning Sintang, 22 Maret 2017.

Uskup baru “perlu memandang dengan kacamata iman, baik diri sendiri maupun misi yang dipercayakan kepadanya oleh Gereja serta semua orang yang dipercayakan kepadanya oleh Tuhan. Demikian juga, seluruh keuskupan, yakni semua imam, biarawan-biarawati dan umat awam perlu memandang gembalanya dengan mata Yesus sendiri,” kata Duta Vatikan.

Seharusnya, “uskup dipandang dengan mata Yesus, yakni melalui iman, sambil mengaku bahwa orang itu, dengan segala kekurangannya, adalah Yesus sang gembala yang baik, yang membimbing kita.” Jika pandangan iman seperti itu dimiliki orang Katolik, lanjut Duta Vatikan, “pasti banyak kesulitan dan perpecahan dapat teratasi, sehingga kita dapat kian bersama bekerja demi Kerajaan Allah.”

Maka, Uskup Agung Filipazzi berharap agar kebahagiaan dalam pesta tahbisan uskup sering menjadi kesempatan bersukacita dan berpesta harus diberi motivasi iman agar semakin nyata dan bermanfaat, karena tujuan perayaan itu “bukan untuk menata organisasi, seakan-akan pejabat mulai mengembang tugasnya di lembaga duniawi.”

Selain itu, unsur kebapakan seorang uskup sudah ditegaskan sejak Gereja Perdana. Santo Ignatius (Uskup Keuskupan Antiokhia), misalnya, mengatakan bahwa uskup mewakili bapanya, Yesus Kristus, uskup seluruh umat manusia. Santo Fransiskus dari Asisi juga menganggap uskup sebagai bapa dan tuan bagi jiwa-jiwa kawanan domba yang dipercayakan kepadanya.

Maka, sebelum ditahbiskan, kata Duta Vatikan, uskup terpilih akan ditanya, “Apakah Saudara bersedia membimbing umat Allah dengan kasih seorang Bapa?” Jadi, “pandangan penuh iman seorang uskup mesti membuat dia memandang diri sendiri dalam relasi dengan komunitas yang dipercayakan kepadanya, menganggap diri dan bertindak seperti seorang bapa, dan komunitasnya mesti memandang dan menganggapnya bapanya sendiri.”

Namun, di dunia Barat, sosok ayah kini sedang mengalami krisis. Sedangkan di budaya lain, fungsi kebapakan dilaksanakan dengan sikap terlalu otoriter. Maka, “guna menemukan kembali wajah otentik seorang bapa, kita perlu memandang Bapa di surga, yang dari-Nya semua turunan di dalam surga dan di atas bumi menerima nama-Nya.”

Dari bapa surgawi umat belajar bahwa fungsi kebapakan bukanlah sikap serba membolehkan atau kendali yang terlalu berlebihan atas anak-anaknya. “Kebapakan sejati mesti bertindak dengan sabar dalam memberi semangat dan mengoreksi,” kata Nuncio itu.”(paul c pati)

Tinggalkan Pesan