27-Feb-2016-Renungan-Adorasi-Pic-1

PEKAN PRAPASKAH II (U)

Santo Salvator OFM; Santo Anselmus dari Lucca;

Santo Syrillus dari Yerusalem; Beata Marta

Bacaan I: Mi. 7:14-15. 18-20

Mazmur: 103:1-2.3-4.9-10.11-12; R:8a

Bacaan Injil: Luk. 15:1-3.11-32

Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa biasanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia. Maka bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya: ”Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka.” Lalu Ia mengatakan perumpamaan ini kepada mereka: Yesus berkata lagi: ”Ada seorang mempunyai dua anak laki-laki. Kata yang bungsu kepada ayahnya: Bapa, berikanlah kepadaku bagian harta milik kita yang menjadi hakku. Lalu ayahnya membagi-bagikan harta kekayaan itu di antara mereka. Beberapa hari kemudian anak bungsu itu menjual seluruh bagiannya itu lalu pergi ke negeri yang jauh. Di sana ia memboroskan harta miliknya itu dengan hidup berfoya-foya. Setelah dihabiskannya semuanya, timbullah bencana kelaparan di dalam negeri itu dan ia pun mulai melarat. Lalu ia pergi dan bekerja pada seorang majikan di negeri itu. Orang itu menyuruhnya ke ladang untuk menjaga babinya. Lalu ia ingin mengisi perutnya dengan ampas yang menjadi makanan babi itu, tetapi tidak seorang pun yang memberikannya kepadanya. Lalu ia menyadari keadaannya, katanya: Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan.8 Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap surga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa. Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia. Kata anak itu kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap surga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa. Tetapi ayah itu berkata kepada hamba-hambanya: Lekaslah bawa ke mari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya. Dan ambillah anak lembu tambun itu, sembelihlah dia dan marilah kita makan dan bersukacita. Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali. Maka mulailah mereka bersukaria.” (Bacaan selengkapnya lihat Alkitab).

Renungan

Tujuh abad sebelum kedatangan Yesus, Nabi Mikha setia mengkritik bangsa Israel yang kerap jatuh dalam dosa, bahkan menubuatkan kehancuran Samaria dan Yerusalem. Namun, seperti nabi lainnya, ia melihat melampaui hukuman, bahwa keinginan dan rencana Allah bagi umat-Nya adalah pengampunan bukan hukuman, kehidupan bukan kematian. Ia meramalkan kelahiran Mesias yang datang untuk menyayangi kita, menghapus semua kesalahan kita dan melemparkan segala dosa kita ke dalam tubir laut (bdk. Mi. 7:19). Sosok Mesias itu ditampilkan Yesus dalam figur bapak yang murah hati; ia melupakan kelakuan anak-anaknya di masa lampau dan selalu siap menerima, memaafkan mereka tanpa syarat.

Kita harus yakin bahwa setiap kali berbalik kepada-Nya dengan penuh sesal dan tobat, Allah pasti memberi pengampunan. Kasih pengampunan itu harus diteruskan dengan semakin mudah pula memaafkan sesama yang bersalah kepada kita.

Ya Tuhan, beranikan aku berbalik dari dosa dan semua kebiasaan buruk untuk kembali kepada-Mu. Amin.

Tinggalkan Pesan