Perumpamaan tentang kebun anggur

PEKAN PRAPASKAH II (U)

Santo Patrisius; Santo Gertrudis dr Nivelles;

Yusuf dari Arimatea

Bacaan I: Kej. 37:3-4.12.13a.17b-28

Mazmur: 105:16-17.18-19.20-21; R:5a

Bacaan Injil: Mat. 21:33-43.45-46

Sekali peristiwa Yesus berkata kepada imam-imam kepala serta tua-tua bangsa Yahudi: ”Dengarkanlah perumpamaan ini. Adalah seorang tuan tanah membuka kebun anggur dan menanam pagar sekelilingnya. Ia menggali lobang tempat memeras anggur dan mendirikan menara jaga di dalam kebun itu. Kemudian ia menyewakan kebun itu kepada penggarap-penggarap lalu berangkat ke negeri lain. Ketika hampir tiba musim petik, ia menyuruh hamba-hambanya kepada penggarap-penggarap itu untuk menerima hasil yang menjadi bagiannya. Tetapi penggarap-penggarap itu menangkap hamba-hambanya itu: mereka memukul yang seorang, membunuh yang lain dan melempari yang lain pula dengan batu. Kemudian tuan itu menyuruh pula hamba-hamba yang lain, lebih banyak dari pada yang semula, tetapi mereka pun diperlakukan sama seperti kawan-kawan mereka. Akhirnya ia menyuruh anaknya kepada mereka, katanya: Anakku akan mereka segani. Tetapi ketika penggarap-penggarap itu melihat anaknya itu, mereka berkata seorang kepada yang lain: Ia adalah ahli waris, mari kita bunuh dia, supaya warisannya menjadi milik kita. Mereka menangkapnya dan melemparkannya ke luar kebun anggur itu, lalu membunuhnya. Maka apabila tuan kebun anggur itu datang, apakah yang akan dilakukannya dengan penggarap-penggarap itu?” Kata mereka kepada-Nya: ”Ia akan membinasakan orang-orang jahat itu dan kebun anggurnya akan disewakannya kepada penggarap-penggarap lain, yang akan menyerahkan hasilnya kepadanya pada waktunya.” Kata Yesus kepada mereka: ”Belum pernahkah kamu baca dalam Kitab Suci: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru: hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita. Sebab itu, Aku berkata kepadamu, bahwa Kerajaan Allah akan diambil dari padamu dan akan diberikan kepada suatu bangsa yang akan menghasilkan buah Kerajaan itu. Ketika imam-imam kepala dan orang-orang Farisi mendengar perumpamaan-perumpamaan Yesus, mereka mengerti, bahwa merekalah yang dimaksudkan-Nya. Dan mereka berusaha untuk menangkap Dia, tetapi mereka takut kepada orang banyak, karena orang banyak itu menganggap Dia nabi.

Renungan

Yusuf dibenci oleh saudara-saudaranya karena lebih dikasihi oleh Yakub, ayahnya. Ketika disuruh menghampiri saudara-saudaranya di padang penggembalaan, mereka menangkap, lalu menjualnya kepada saudagar Midian. Drama ‘anak terkasih’ ini dialami juga oleh Yesus yang diutus Bapa kepada bangsa Israel, namun ditolak, dibuang, lalu dibunuh.

Sejak saat itu, Allah mempercayakan kebun anggur-Nya kepada sisa-sisa bangsa Israel yang beriman dan bangsa-bangsa lain, yang dahulu dianggap kafir namun menerima Yesus sebagai Juru Selamat. Di atas iman inilah Kerajaan Allah dibangun untuk menghasilkan buah pada waktunya. Komunitas baru inilah yang kita sebut Gereja. Sambil bersyukur atas panggilan dan pilihan-Nya, jangan kita lalai untuk berbuah kebaikan setiap saat, selagi masih ada waktu.

Ya Tuhan, berkati aku dengan Roh-Mu agar laksana carang aku selalu ingin bersatu erat dengan pokok anggur sejati, yakni Yesus Putra-Mu. Amin.

 

Tinggalkan Pesan