02-sermon-on-the-mount-1800

PEKAN PRAPASKAH I (U)

Santo Eulogius dan Leokrita; Santo Sofronius

Bacaan I: Ul. 26:16–19

Mazmur: 119:1–2.4–5.7–8; R:1

Bacaan Injil: Mat. 5:43-48

Dalam khotbah di bukit Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di surga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allah pun berbuat demikian? Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga adalah sempurna.”

Renungan

Musuh berarti seorang yang jahat kepada kita, sedangkan ‘Kasih’ (agape) berarti perhatian dan perlakuan baik tanpa pamrih kepada seseorang. Dan Yesus memerintahkan untuk mengasihi dan mendoakan musuh kita. Perintah yang sulit dan idealis. Namun, alasan utama ajaran ini adalah karena Allah mengasihi setiap orang tanpa terkecuali, dan Ia memanggil kita untuk melakukan hal yang persis sama, karena bukankah kita diciptakan berdasarkan citra-Nya?

Kejahatan hanya mendatangkan penderitaan dan kerugian bagi diri sendiri. Maka pilihan yang ada bukan membalas kejahatan seseorang, namun berdoa baginya: mengasihinya dan memberikan pengampunan yang menyembuhkan. Mengasihi dan mendoakan kebaikan musuh pasti memberi rasa damai di hati, sambil percaya bahwa Allah akan ikut mengubah dan menyembuhkan dirinya. Membalas kejahatan dengan kebaikan pasti menghasilkan hal positif bagi kedua pihak. ”Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah” (Mat. 5:9).

Ya Tuhan, tambahkanlah selalu kasih dalam diriku sehingga aku semakin mengenal Dikau yang adalah kasih, mengasihi-Mu lebih dari segalanya dan mengasihi sesama— siapa pun di sekitarku—seperti aku yang selalu Dikau kasihi. Tuhan, kobarkanlah selalu kasih dalam diriku. Amin.

Tinggalkan Pesan