Berdamai

PEKAN PRAPASKAH I (U)

Santo Yohanes, Biarawan

Bacaan I: Yeh. 18:21-28

Mazmur: 130:1-2.3-4ab.4c-6.7-8; R: 3

Bacaan Injil:  Mat. 5:20-26

Dalam khotbah di bukit Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar daripada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga. Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala. Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu. Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu itu jangan menyerahkan engkau kepada hakim dan hakim itu menyerahkan engkau kepada pembantunya dan engkau dilemparkan ke dalam penjara. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas.”

Renungan

Yesus memperluas pemahaman kita akan ‘Sepuluh Firman’. Sabda Perjanjian Lama (‘Kamu telah mendengar’) dikontraskan dengan sabda Yesus (‘Tetapi Aku berkata kepadamu’). Hal ini memperlihatkan bagaimana Yesus datang untuk menggenapi hukum dan nubuat nabi sambil menerangkan makna sejati dari ‘Sepuluh Firman’ (bdk. Mat. 5:17). Ia menunjukkan kuasa-Nya untuk memberikan prinsip-prinsip moral yang lebih radikal dan menuntut.

Kita diingatkan agar tidak berpuas diri karena telah menuruti hukum (legalistis, literalistis), namun selalu berusaha untuk memahami inti, maksud, dan tujuan (modernis) Allah memberikan hukum itu. Yesus mengajak kita untuk kembali ke dalam diri dan hati nurani, melihat motif, lalu berusaha untuk menghindari hal-hal sepele yang bisa berujung pada dosa berat.

Maka sambil menjalani Prapaskah ini, Yesus mengajak kita untuk memperbarui dan mempertajam hati nurani, sumber motif dan moralitas kita. Membuka diri agar dapat memahami perintah-Nya dengan benar, sambil memperbaiki relasi kita dengan sesama melalui tobat dan memulihkan hubungan yang telah rusak (rekonsiliasi); karena mati-raga yang kita jalani ini bukan hanya sebagai bukti iman kita kepada Allah, tetapi juga aksi kasih kita kepada sesama (1Yoh. 4:20).

Ya Tuhan, berikanlah aku hati baru dan Roh yang taat agar aku bertobat dan membarui relasi dengan sesama, sehingga bukan kematian namun kehidupanlah yang aku peroleh dari-Mu. Amin.

Tinggalkan Pesan