Renungan16-Feb-2016

PEKAN PRAPASKAH I (U)

Peringatan wajib Santa Perpetua dan Felisitas, Martir

Bacaan : Yes. 55:10–11

Mazmur: 34:4–5.6–7.16–17.18–19; R:18b

Bacaan Injil: Mat. 6:7–15

Dalam khotbah di bukit Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan. Jadi janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya. Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di surga, Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga. Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat. [Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.] Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di surga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.”

Renungan

Perpetua dan Felisitas adalah dua ibu asal Kartago-Afrika Utara yang berbeda status sosial, namun berbagi iman dan cinta akan Yesus Kristus. Bergandengan tangan, mereka menerima mahkota kemartiran dengan gagah berani. Mereka menerima Firman Tuhan dan melaksanakannya hingga berhasil. Seperti hujan dan salju dari langit, darah mereka menjadi saksi betapa cinta dan taat kepada Tuhan harus lebih kuat daripada terhadap manusia (bdk. Kis. 5:29). Kekuatan itu pun tentu lahir dari doa.

Doa seorang beriman tidak perlu bertele-tele, karena Tuhan sudah tahu segala kebutuhan kita. Mengapa kita masih harus berdoa? Kita berdoa bukan untuk Tuhan, tetapi untuk diri sendiri. Doa membuat kita sadar akan banyaknya kebutuhan kita, dan betapa kita tidak mampu memenuhinya tanpa bantuan rahmat Allah. Doa membantu kita menjadi miskin di hadapan Tuhan, sekaligus belajar mengenal dan melakukan apa yang Tuhan inginkan dalam kehidupan kita. Doa ‘Bapa Kami’ yang diajarkan Tuhan Yesus bukan berisi daftar apa-apa yang harus Tuhan lakukan untuk kita, tetapi lebih pada ajakan bagi kita untuk melakukan dan menerima kehendak Tuhan dalam hidup ini.

Ya Tuhan, semoga di Masa Prapaskah ini aku bisa menambah waktu doa kepada-Mu, agar seperti St. Perpetua dan Felisitas, aku sanggup mengenali dan melaksanakan kehendak-Mu di atas bumi, seperti di dalam surga. Amin.

 

 

Tinggalkan Pesan