Salib-salib7
OMK se-Indonesia memikul salibnya masing-masing dalam parade IYD di Manado 2016. Foto: PEN@ Katolik

HARI KAMIS SESUDAH RABU ABU (U)

Santo Simplisius, Paus, Marti; Sana Agnes dari Praha

Bacaan I: Ul. 30:15-20

Mazmur: 1:1-2.3.4.6; R:40:5a

Bacaan Injil: Luk. 9:22-25

Sekali peristiwa Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: ”Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga.” Kata-Nya lagi kepada mereka semua: ”Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku. Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya. Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia membinasakan atau merugikan dirinya sendiri?”

Renungan

Musa mengajarkan kualitas yang dituntut dari bangsa Israel, yakni mengasihi Allah, mendengarkan suara-Nya dan berpaut pada-Nya. Semua itu penting agar mereka hidup bahagia dan lanjut umurnya di tanah terjanji. Yesus menyempurnakan kualitas yang dituntut dari setiap murid-Nya, yakni menyangkal diri, memikul salib, dan mengikuti-Nya.

Secara sederhana, menyangkal diri berarti meninggalkan sifat egosentris dan lebih memperhatikan kepentingan bersama. Memikul salib berarti menyatukan suka-duka hidup pada salib Yesus. Di situ ada makna positif dari setiap penderitaan. Kedua hal itu hanya bisa dijalankan jika mau mengikuti Yesus (bdk. Yoh.14:6).

Mari memaknai Prapaskah dengan belajar mengikuti cara hidup Yesus yang selalu memberi diri bagi sesama: kasih, kepedulian, solidaritas, dan keadilan. Inilah cara untuk menemukan jati diri kita sebagai citra Allah. Mari belajar dari ziarah iman Katolik yang diwarnai aneka kisah orang kudus yang memberikan hidupnya bagi sesama. Mereka belajar menjadi sama dengan Yesus, yang tampak gagal dan dipermalukan di kayu salib, namun kini menjadi simbol kemenangan dan kasih bagi sesama.

Ya Tuhan, semoga sepanjang Prapaskah ini aku mau belajar dari-Mu untuk menjadi murid yang sejati. Semoga aku pun mampu membuktikan bahwa tiada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan hidupnya bagi sesama. Amin.

 

Tinggalkan Pesan