rabu-abu

RABU ABU (U) – Puasa dan Pantang

Sano Feliks III (II); Paus; Sano David; Santa Magdalena dari Kanossa

Bacaan I: Yl. 2:12–18

Mazmur: 51:3–4.5–6a.12–13.14.17; R:3a

Bacaan II: 2Kor. 5:20–6:2

Bacaan Injil: Mat. 6:1–6.16–18

Dalam khotbah di bukit Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di surga. Jadi apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu. Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.” ”Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu. Dan apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”

Renungan

Abu melambangkan dukacita, ketidakabadian dan sesal/tobat (bdk. Est. 4:1; Ayb. 42:6; Dan. 9:3; Yun. 3:5-6). Dengan pemberian abu, Gereja mau mengingatkan kita akan ketidakabadian sehingga memanggil kita untuk hidup dalam semangat pertobatan sejati.

Abu ini juga mengajak kita sepanjang Prapaskah untuk mengarahkan hati kepada Kristus yang sengsara, wafat, dan bangkit demi keselamatan kita.

Penderitaan Kristus menjadi undangan terbuka kepada pertobatan (bdk. 2Kor. 6:2), sedangkan kebangkitan-Nya menjadi sumber harapan akan kualitas hidup yang lebih baik jika kita mau merenungkan, menghayati dan mengamalkan Firman-Nya. Dan kualitas hidup setiap orang beriman ditandai dengan doa, bermati-raga (berpantang dan berpuasa) serta beramal kasih kepada sesama (bdk. Mat. 6:1-6.16-18), bukan hanya pada Masa Prapaskah, tetapi setiap saat sepanjang masa hidupnya.

Semoga abu yang menandai awal Prapaskah ini mengingatkan diri kita sebagai gambar dan citra Allah, yang diciptakan dengan berbagai kelebihan dan kekurangan tetapi tetap dipanggil Tuhan kepada kekudusan dan kesempurnaan.

Ya Tuhan, arahkanlah hidupku di masa penuh rahmat ini agar aku mampu membarui diri melalui doa, berpantang-berpuasa serta beramal kasih, sehingga iman dan cinta kepada-Mu semakin mendalam dan kasih kepada sesama semakin bertumbuh subur. Amin.

Tinggalkan Pesan