Tahbisan5

Makna kehidupan bersaudara dalam hidup bersama dari sebuah rumah novisiat  telah membuat seorang putra Singkawang jatuh hati pada kehidupan gembala Gereja, namun selama empat tahun dia menjalani pendidikan imamat tanpa restu orang tuanya, karena sesuai adat dia sebagai putera pertama diharapkan meneruskan nama marga.

Meski terganjal restu orangtua, Boston Sitinjak yang lahir di Pematang Kerasaan, Sumatera Utara,16 Januari 1986 sebagai anak pertama dari lima bersaudara Keluarga Pendi Sitinjak dan Mastauli br Gultom dari Paroki Kristus Raja Perdagangan Keuskupan Agung Medan itu tetap bertekad menjadi imam.

Maka, Diakon Yosua Boston Sitinjak OFMCap itu menjadi satu di antara tiga imam Kapusin yang ditahbiskan imam oleh Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus di Gereja Paroki Santo Fransiskus Assisi, Kota Singkawang, Kalimantan Barat, 23 Februari 2017.

Dua diakon lain yang ditahbiskan bersama-sama dalam pentahbisan bertema “Engkau nyatakan kepada orang kecil” itu adalah Diakon Jeneripitus OFMCap dan Diakon Aloysius Anong OFMCap.

Mengapa Pastor Sitinjak mampu bertahan meski dirintangi orangtua? “Kekuatan panggilan saya temukan ketika berhadapan dengan para suster yang selalu menguatkan manakala saya ragu menanggapi panggilan,” jawab imam baru itu.

Segala kesungguhannya dalam menjalani panggilan imamat menuai ‘buah kemenangan,“ tulis Pastor Sitinjak. Tekad kuat, lanjutnya, mengalahkan hambatan, dan setelah hampir sepuluh tahun berdoa dengan teladan Santo Fransiskus Assisi dia menerima pesan berisi restu orangtua dalam satu kalimat, “Jangan buat kami malu.”

Pastor Sitinjak mengucapkan Kaul Perdana di Pontianak 1 Agustus 2009, Kaul Kekal di Novisiat Padre Pio Gunung Poteng, Singkawang, 30 Juli 2015, Tahbisan Diakon di Paroki Salib Suci Ngabang, 27 Agustus 2016. Dan menjalankan tahun diakonat di Paroki Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga Balai Sebut, Sanggau.

Sama seperti kedua teman imamnya, mereka pernah mengikuti Postulat Santo Leopold Mandic, Bunut Sanggau Kapuas, Novisiat Santo Padre Pio di Gunung Poteng Singkawang, dan pendidikan filsafat di  STFT Santo Yohanes Pematangsiantar, Sumatera Utara, dan teologi di Sekolah Tinggi Teologi (STT) Pastor Bonus Pontianak.

Pastor Sitinjak telah menyerahkan segala kekuatirannya kepada Tuhan, maka motto tahbisan imamatnya adalah “Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu (1 Petrus 5:7).” Motto Pastor Jeneripitus adalah “Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal” (Ayub 42:2), sedangkan motto Pastor Anong adalah “Siapakah aku ini Tuhan sehingga Engkau memilikiku” (bdk Luk. 1:43).

Menurut Pastor Jeneripitus, sejak masa awal remaja dia merasakan suara panggilan Tuhan “kuat menggema di jiwa.” Dia bukan hanya selalu ingin tahu lebih mendalam tentang orang-orang yang berjubah putih bersih, namun sejak masa kecil panggilan “Plater” atau cara orang kampung memanggil frater itu sungguh menawan ingatannya.

Imam yang lahir di Daok, Sanggau, 7 Agustus 1985 itu bercerita, dulu selesai berdoa ada sosok berjubah coklat datang dengan sikap sungguh memikat memperkenalkan diri sebagai Kapusin. “Betapa jubah coklat dan sederhana mampu mencuri perhatian dan membuat penasaran, belum lagi keterangan bahwa kesederhanaan yang diterapkan adalah ajaran dari sosok suri teladan, Santo Fransiskus Assisi,” tulis  imam itu.

Dia melihat kesederhanaan Santo Fransiskus Assisi sarat akan keteladanan dalam kehidupan yang “sungguh mampu membuat saya kukuh bertahan menanggapi panggilan sebagai imam,” tulis imam baru yang begitu terpesona pada penampilan calon gembala berjubah coklat bertali ikat putih melilit, bersimpul-simpul di pinggang.

Sedangkan menurut Pastor Anong, “Sungguh tidak ada hal fantastik dan dramatis melatari alasan saya menjadi bagian dari calon gembala. Kehidupan masa remaja saya seperti remaja lain pada umumnya.”

Namun imam itu mengakui tidak dapat menyangkal suara Tuhan yang terdengar berulang-ulang. Memang, kata putra kelahiran Jernang, Lembah Bawang, Bengkawang, 7 November 1982 itu, panggilan yang berawal dari kesan mendalam pada slide-slide bisu seabad karya misi Kapusin di Borneo, ditambah secarik kertas berisi tawaran bergabung dengan ordo berciri jubah coklat dengan singulum putih melingkar di pinggang ini tak serta-merta memberinya kekuatan.

Suatu ketika, pastor paroki serius menanggapi celetuknya bernada canda untuk menjadi gembala. “Sejak itu, permenungan tentang ke mana arah iman menggiring niat serius menanggapi  seruan kehidupan menjadi imam,” jelas Pastor Aloysius.

Keraguan memang masih menjalar di setiap sudut kalbu, “Namun dengan tekad kuat, saya menjawab panggilan imamat. Jalan terjal dan beragam pergulatan harus saya tempuh untuk menjadi  ‘kuntum coklat muda’ yang siap mekar, merasul di tengah rimba raya kehidupan. Panggilan itu tumbuh perlahan namun pasti setelah berbagai proses menempa.”

Pastor Aloysius mengaku bukan tanpa tantangan meninggalkan hedonisme kehidupan yang kerap berbenturan dengan rasa bosan. “Namun dengan berbekal suara hati, pengalaman rohani, studi, juga penguatan dari rekan-rekan, biarawan dan biarawati, hari ini saya dapat berdiri di sini untuk menjawab panggilan suci.”(paul c pati)

 

Tinggalkan Pesan