Sermon on the mount by Bloch

PEKAN BIASA VIII (H)

Santa Alexandra; Santo Didakus Carvalho

Bacaan I: Yes. 49:14–15

Mazmur: 62:2–3.6–7.8–9ab; R:6a

Bacaan II: 1Kor. 4:1–5

Bacaan Injil: Mat. 6:24–34

Dalam khotbah di bukit Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon. Karena itu, Aku berkata kepadamu: Janganlah khawatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah khawatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian? Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di surga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu? Siapakah di antara kamu yang karena kekhawatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya? Dan mengapa kamu khawatir akan pakaian? Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal, namun Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannya pun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu. Jadi jika demikian Allah mendandani rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya? Sebab itu janganlah kamu khawatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? (Bacaan selengkapnya lihat Alkitab…)

Renungan

Nabi Yesaya berusaha menghibur orang-orang buangan yang kehilangan harapan. Ia mengingatkan mereka bahwa Allah tidak pernah berhenti menyayangi mereka. Ia membandingkan kasih sayang Allah itu dengan kasih sayang seorang ibu terhadap anak-anaknya. Walaupun demikian, kasih sayang Allah pasti jauh lebih besar daripada kasih sayang seorang ibu.

Demikian halnya dengan Yesus. Ia mengangkat semangat para murid-Nya supaya tidak khawatir akan hari esok; akan apa yang dimakan, dipakai, dan dihadapi. Yesus meyakinkan mereka agar menaruh harapan mereka kepada Allah saja.

Hidup kita kerap kali diwarnai dengan berbagai kegelisahan. Dalam kondisi ini kita mencari pegangan dan kepastian. Ada yang merasa pasti dan berpegang pada kekayaan, kekuasaan, atau kesenangan. Namun, ternyata segeralah semuanya itu malah memperbudak kita. Manusia menjadi gila kerja, merasa tidak punya waktu, dan kehilangan kegembiraan.

Maka, yang perlu kita bangun sekarang adalah Kerajaan Allah, bukan kerajaan dunia. Kerajaan di mana Allah merajai hidup kita, orang-orang prihatin diperhatikan, kaum miskin dipuaskan, atau orang tertindas diangkat. Marilah kita cari dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya agar segala sesuatu ditambahkan kepada kita.

Ya Bapa, kasihanilah aku yang senantiasa khawatir akan hari esok. Yakinkanlah aku agar menggantungkan diri hanya kepada-Mu. Amin.

Tinggalkan Pesan