Perkawinan perceraian

PEKAN BIASA VII (H)

Santo Montanus dan Lucius, dan kawan-kawan

Bacaan I: Sir. 6:5–17

Mazmur: 119:12.16.18.27.34.35; R:35a

Bacaan Injil: Mrk. 10:1-12

Pada suatu hari Yesus berangkat ke daerah Yudea dan ke daerah seberang Sungai Yordan dan di situ pun orang banyak datang mengerumuni Dia; dan seperti biasa Ia mengajar mereka pula. Maka datanglah orang-orang Farisi, dan untuk mencobai Yesus mereka bertanya kepada-Nya: “Apakah seorang suami diperbolehkan menceraikan isterinya?” Tetapi jawab-Nya kepada mereka: “Apa perintah Musa kepada kamu?” Jawab mereka: “Musa memberi izin untuk menceraikannya dengan membuat surat cerai.” Lalu kata Yesus kepada mereka: “Justru karena ketegaran hatimulah maka Musa menuliskan perintah ini untuk kamu. Sebab pada awal dunia, Allah menjadikan mereka laki-laki dan perempuan, sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.” Ketika mereka sudah di rumah, murid-murid itu bertanya pula kepada Yesus tentang hal itu. Lalu kata-Nya kepada mereka: “Barangsiapa menceraikan isterinya lalu kawin dengan perempuan lain, ia hidup dalam perzinaan terhadap isterinya itu. Dan jika si isteri menceraikan suaminya dan kawin dengan laki-laki lain, ia berbuat zina.”

Renungan

Menikahi orang yang mencintai kita itu biasa. Namun, tetap mencintai orang yang kita nikahi itu yang luar biasa. Dalam pernikahan Kristiani seorang laki-laki dan seorang perempuan berjanji untuk setia dalam suka-duka, untung-malang, sakit-sehat. Perjanjian antara suami dan istri itu harus dilakukan secara sungguh-sungguh (tidak ada manipulasi), total (sepenuh hati dan jiwa), dan dalam keadaan bebas (dari tekanan, paksaan, dan ketakutan).

Ketika suami-istri dalam keadaan suka, untung, dan sehat barangkali kesatuan dan kesetiaan lebih mudah diciptakan. Bahkan hal itu dipandang biasa. Akan tetapi, pasti jauh lebih sulit mempertahankan kesatuan dan kesetiaan itu apabila mereka mengalami situasi duka, malang, atau sakit. Namun, apabila mereka mampu menghayati hakikat perkawinan itu justru di saat-saat sulit, inilah yang luar biasa. Suami-istri hidup selaras amanat Allah.

Yesus sendiri menggarisbawahi bahwa suami atau istri tidak boleh menceraikan pasangannya dengan alasan apa saja karena kesatuan mereka itu tanpa syarat.

Allah sendiri yang menciptakan perkawinan. Allah menghendaki laki-laki dan perempuan saling melengkapi dan saling menyempurnakan. Tempat bagi kesempurnaan itu adalah perkawinan.

Marilah menjadi pasutri yang luar biasa, mampu mencintai orang yang dinikahi sepanjang hayat. Dan semoga keluarga “bahtera” (bahagia, harmonis, tenteram, dan sejahtera) bisa tercipta.

Ya Allah sumber cinta, mampukanlah aku untuk tetap saling mencintai terutama pada saat-saat kehidupan ini menjadi sulit. Amin.

 

 

Tinggalkan Pesan