Damages_at_the_Malole_seminary
Kerusakan di Seminari Malole

Aksi-aksi kekerasan dan kebiadaban kini terjadi di Republik Demokratik Kongo. Anak-anak muda masuk ke sebuah gereja dan tanpa ada rasa hormat terhadap kesucian Allah atau tanpa rasa takut akan Allah, para “penjahat” itu merusak dan menjarah segalanya. Sehari sebelumnya sebuah seminari tinggi diporak-porandakan.

“Situasi keamanan di Kongo pada umumnya, dan di Kinshasa pada khususnya, kini mengkhawatirkan. Ada ketakutan, kemarahan, bahkan ketidakpastian baru. Dengan kegeraman kami datang 18 Februari 2017 untuk mengetahui pembakaran terhadap Seminari Tinggi Malole oleh orang-orang tidak beradab, yang menyebarkan teror di antara para suster Karmel dekat seminari di Kananga, di provinsi Kasai Tengah,” tulis Uskup Agung Kinshasa Kardinal Laurent Monsengwo Pasinya dalam pesan tertanggal 19 Februari 2017.

Pada tanggal pesan itu, Pastor Gabriel Samba OP menulis dalam www.op.org, bahwa pada jam 5 pagi sekitar dua puluh orang muda menyerbu gereja Paroki Santo Dominikus Limete, Kinshasa, yang dijalankan oleh para saudara Dominikan dari Wakil Provinsi Santo Pius V di Republik Demokratik Kongo.

“Mereka menggulingkan altar dan tabernakel yang berisi hosti suci ke tanah. Mereka mematahkan bangku-bangku dan menghancurkan patung Perawan Maria. Mereka meninggalkan gereja dalam keadaan kacau. Kekacau-balauan itu tak terlukiskan, sehingga seorang imam Dominikan dari Biara Santo Dominikus Kinshasa membandingkannya dengan adegan yang tertulis dalam dari buku pertama Makabe (1 Makabe 1: 21-23),” tulis Pastor Samba.

Menurut imam itu, bukan hanya Saudara-Saudara Dominikan yang menjadi korban aksi-aksi kekerasan dan kebiadaban ini, karena komunitas imam-imam OMI Limete juga mengalami nasib sama.

Peristiwa itu, tegas Kardinal Laurent Monsengwo Pasinya, “menunjukkan bahwa Gereja Katolik sengaja ditargetkan guna merusak misi ‘mediasi’ untuk perdamaian dan rekonsiliasi,” yang dijalankan Konferensi Waligereja Kongo.

Uskup Agung Kinshasa itu mengajak semua orang untuk menunjukkan kebijaksanaan, penahanan diri dan semangat demokratis dalam rangka mengatasi krisis politik yang saat ini dialami negeri itu. Bersama semua uskup, lanjut uskup agung itu, “kami mencela aksi-aksi kekerasan ini yang bisa menjerumuskan negara kita ke dalam kekacauan yang tak terlukiskan. Kami mendesak pihak berwenang negara kami untuk menghentikan ketegangan ini dan menjamin perlindungan bagi hak milik dan orang-orang, terutama warisan Gereja Katolik, yang sangat ditargetkan.”

Menurut laporan Agenzia Fides dari Vatikan, yang mengobrak-abrik Seminari Malole di Kananga, Kasai Tengah, Republik Demokratik Kongo, adalah milisi Kamwina Nsapu. “Secara sistematis, milisi memecahkan pintu kamar-kamar dan menghancurkan segala sesuatu yang ada di dalamnya. Mereka memasuki ruangan-ruangan para guru dan membakar barang-barang mereka,” kata rektor seminari, Pastor Richard Kitenge Radio Okapi.

Setelah pengrusakan selama satu jam, tentara berhasil membebaskan seminari dari para milisi. Insiden itu berlangsung 18 Februari 2017, sehari sebelum Paus Fransiskus mengeluarkan seruan bagi provinsi di Kongo yang selama berbulan-bulan digoncang dengan kekerasan dari para pengikut mendiang pemimpin tradisional Kamwina Nsapu, yang tewas dibunuh di bulan Agustus oleh pasukan keamanan.

Dalam pernyataan yang dikirim ke Agenzia Fides, Uskup Luiza Mgr Félicien Mwanama Galumbulula mengecam “kekerasan luar biasa dan kekejaman yang tak terbayangkan terhadap penduduk” yang dilakukan milisi Kamwina Nsapu di tempat-tempa berbeda di keuskupannya di Kasai Tengah.(pcp)

congo_church4_0

congo_church3_1

Tinggalkan Pesan