many-times-did-jesus-fall-carrying-cross

PEKAN BIASA VI (H)

Santo Teodulus; Santo Bonfilio; Santo Silvinus; Santo Nisephorus

Bacaan I: Kej. 11:1–9

Mazmur: 33:10–11.12–13.14–15; R:12b

Bacaan Injil: Mrk. 8:34–9:1

Pada suatu ketika Yesus memanggil orang banyak dan murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: “Setiap orang yang mau mengikuti Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Karena siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil, ia akan menyelamatkannya. Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya. Karena apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya? Sebab barangsiapa malu karena Aku dan karena perkataan-Ku di tengah-tengah angkatan yang tidak setia dan berdosa ini, Anak Manusia pun akan malu karena orang itu apabila Ia datang kelak dalam kemuliaan Bapa-Nya, diiringi malaikat-malaikat kudus.” Kata-Nya lagi kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya di antara orang yang hadir di sini ada yang tidak akan mati sebelum mereka melihat bahwa Kerajaan Allah telah datang dengan kuasa.”

Renungan

Umat Perjanjian Lama membangun dunia idamannya. Menara Babel adalah simbol sukses mereka secara manusiawi dan duniawi. Sayang pencapaian lahiriah ini hanya melahirkan kesombongan dan melupakan kekuasaan Allah. Tidaklah heran bila kemudian Allah memorak-porandakan proyek fenomenal itu.

Bagi Injil, keselamatan itu justru identik dengan kehilangan-kematian. Hal ini mau mengingatkan kita bahwa kekayaan dunia, kesuksesan finansial, dan kelimpahan materi kerap kali menjadi sandungan bagi tercapainya keselamatan. Nikmat dunia bisa sangat menyita perhatian manusia sehingga ia memalingkan diri dari Allah. Injil mengingatkan, “Di mana hartamu berada di situ pula hatimu berada.”

Sebaliknya, “kemiskinan” itu menyelamatkan. Dengan hidup miskin di mata Allah, hati manusia tertambat pada Allah. Manusia hanya menggantungkan diri kepada-Nya. Ia beriman. Raja atas kehidupannya adalah Allah, bukan kemegahan dunia.

Sayang, jalan keselamatan tersebut identik dengan jalan salib. Menyangkal diri dan menolak dunia bukanlah perkara mudah. Memilih tawaran Roh Kudus dengan menampik daya tarik roh dunia itu adalah penderitaan tersendiri. Maka, tidaklah heran apabila kemudian Yesus selalu mengingatkan para murid-Nya untuk menyangkal diri dan memikul salib sebagai syarat mengikuti-Nya. Peringatan itu berlaku juga bagi kita.

Ya Allah, perkenankanlah aku menjadi pengikut-Mu dan mampukanlah aku memikul salib dan menyangkal diri. Amin.

 

Tinggalkan Pesan