tuli mendengar

PEKAN BIASA V (H)

Peringatan Wajib Santa Skolastika, Perawan (P); Santo Zenon

Bacaan I: Kej. 3:1-8

Mazmur: 32:1-2.5.6.7; R:1a

Bacaan Injil: Mrk. 7:31-37

Pada waktu itu, Yesus meninggalkan daerah Tirus dan dengan melalui Sidon pergi ke danau Galilea, di tengah-tengah daerah Dekapolis. Di situ orang membawa kepada-Nya seorang yang tuli dan yang gagap dan memohon kepada-Nya, supaya Ia meletakkan tangan-Nya atas orang itu. Dan sesudah Yesus memisahkan dia dari orang banyak, sehingga mereka sendirian, Ia memasukkan jari-Nya ke telinga orang itu, lalu Ia meludah dan meraba lidah orang itu. Kemudian sambil menengadah ke langit Yesus menarik nafas dan berkata kepadanya: “Efata!”, artinya: Terbukalah! Maka terbukalah telinga orang itu dan seketika itu terlepas pulalah pengikat lidahnya, lalu ia berkata-kata dengan baik. Yesus berpesan kepada orang-orang yang ada di situ supaya jangan menceritakannya kepada siapa pun juga. Tetapi, makin dilarang-Nya mereka, makin luas mereka memberitakannya. Mereka takjub dan tercengang dan berkata: “Ia menjadikan segala-galanya baik, yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berkata-kata.”

Renungan

Tuli berarti tidak bisa mendengarkan. Seorang tuli tidak bisa mendengarkan suara atau kata-kata. Alhasil, ia tidak bisa memahami nilai atau pesan yang dibawa suara. Jika seorang tuli menjadi sembuh, maka ia akan mampu mendengarkan suara dan terbuka kemungkinan untuk mengerti isinya. Selanjutnya, dengan memahami pesan yang dibawa oleh suara, memungkinkan pula ia berbuat sesuatu.

Dalam arti tertentu kita bisa digolongkan seorang tuli. Kita masuk dalam jajaran orang yang menutup telinga dan menolak untuk mendengarkan sabda Tuhan. Ajaran, perintah, dan larangan Tuhan; kita abaikan. Kita cenderung mendengarkan dan menaati apa kata hati kita. Ujung-ujungnya kita tersesat, berjalan di jalan salah.

Dalam bacaan hari ini, Yesus menyembuhkan seorang tuli. Orang yang tadinya tidak bisa mendengar dibuat-Nya mendengar. Orang tuli dibuat-Nya mampu memahami dan menghayati sabda Tuhan.

Mukjizat penyembuhan tersebut seharusnya terjadi juga atas kita. Biarkan Yesus membuka katup penutup “telinga batin” kita. Kita buka hati kita pada sabda dan kehendak-Nya. Kita pahami dan hayati pesan-pesan-Nya. Dengan demikian, kita berjalan di jalan yang benar, kita selamat.

Ya Allah, bukalah telinga batinku untuk mendengarkan dan menghayati sabda-Mu. Amin.

Tinggalkan Pesan