Samurai4

Seorang Samurai beragama Katolik yang mati sebagai martir di abad ke-17, dibeatifikasi dalam Misa di Osaka, Jepang, tanggal 7 Februari 2017. Prefek Kongregasi Penggelaran Kudus Vatikan Kardinal Angelo Amato memimpin Misa Beatifikasi Justo Takayama Ukon, yang dinyatakan sebagai martir oleh Paus Fransiskus di bulan Januari tahun lalu.

Takayama Ukon lahir di Jepang tahun 1552 saat misionaris Jesuit sedang diperkenalkan di negeri itu. Ketika Takayama berusia 12 tahun, ayahnya masuk Katolik dan anaknya dibaptis dengan nama “Justo” oleh Pastor Gaspare di Lella SJ, demikian laporan CNA/EWTN News dari Tokyo, 8 Februari 2017.

Posisi Takayama di masyarakat Jepang sebagai daimyo (tuan feodal) memberikan dia banyak keuntungan, seperti memiliki perkebunan besar dan memelihara banyak sekali balatentara. Namun, sebagai seorang Katolik, Takayama menggunakan kekuasaannya untuk mendukung dan melindungi ekspansi misionaris yang tak bertahan lama di Jepang, seraya mempengaruhi masuknya ribuan orang Jepang menjadi Katolik.

Ketika penganiayaan muncul di negeri itu di bawah pemerintahan kanselir Jepang Toyotomi Hideyoshi tahun 1587, banyak orang yang baru masuk Katolik melepaskan keyakinan mereka.

Di tahun 1620-an, sebagian besar misionaris diusir dari negeri itu atau atau dimasukkan dalam pelayanan bawah tanah. Imam-imam misionaris ini hidup sejaman dengan orang-orang yang ditampilkan dalam film terbaru “Silence” yang disutradarai oleh Martin Scorsese. Meskipun film itu berdasarkan novel fiksi oleh penulis Jepang, Shusaku Endo, banyak peristiwa dan orang yang digambarkan dalam “Silence” adalah nyata.

Bukannya menyangkal iman mereka, Takayama dan ayahnya meninggalkan posisi bergengsi mereka dalam masyarakat dan memilih hidup dalam kemiskinan dan pengasingan. Meskipun banyak temannya  mencoba membujuk Takayama untuk menolak agama Katolik, ia tetap kuat dalam keyakinannya.

Takayama “tidak ingin melawan orang-orang Kristen lainnya, dan ini menyebabkan dia hidup miskin, karena kalau seorang samurai tidak mematuhi ‘kepala” samurai dia kehilangan semua yang dia miliki,” kata seorang postulator umum Serikat Yesus, Pastor Anton Witwer, kepada CNA di tahun 2014.

Sepuluh tahun berlalu, dan kanselir itu semakin garang menganiyaya umat Kristiani. Dia akhirnya menyalibkan 26 orang Katolik, dan di tahun 1614, agama Kristiani di Jepang benar-benar dilarang.

Pemboikotan baru terhadap agama Kristen memaksa Takayama meninggalkan Jepang dalam pengasingan bersama 300 umat Katolik lainnya. Mereka melarikan diri ke Filipina, tetapi tidak lama setelah tiba di sana, Takayama meninggal tanggal 3 Februari 1615.

Tahun 2013, Konferensi Waligereja Jepang menyerahkan permohonan beatifikasi Takayama sepanjang 400 halaman kepada Kongregasi Penggelaran Kudus. Tanggal 22 Januari 2016, kemajuan Takayama dalam perjalanan kanonisasi diumumkan saat Paus Fransiskus menyetujui surat ketetapan kemartirannya.

“Karena Takayama meninggal di pengasingan akibat kelemahan yang disebabkan oleh kekejaman yang dia derita di tanah airnya, maka proses beatifikasi itu sebagai seorang martir,” jelas Pastor Witwer.

Kehidupan Takayama menunjukkan contoh Kristen “tentang kesetiaan besar akan panggilan Kristen, tekun di tengah semua kesulitan,” lanjut Pastor Witwer.

“Sebagai seorang Kristen, sebagai pemimpin, sebagai orang budaya, sebagai pelopor adaptasi, Ukon adalah model peran dan ada banyak hal yang dapat kita pelajari dari dia,” kata Pastor Renzo De Luca kepada Radio Vatikan. Biarawan Yesuit dari Argentina itu adalah direktur Museum 26 Martir di Nagasaki, Diceritakan Radio Vatikan.

“Dalam era ketidakpercayaan politik ini, saya kira dia akan membantu orang lain selain Kristen.” (paul c pati berdasarkan CNA/EWTN News)

Samurai1

Samurai

Tinggalkan Pesan