Paus salami emimpin GerejaOrtodoks Oriental
Paus menyalami para pemimpin Gereja-Gereja Ortodoks Oriental

Di mana pun ada kekerasan dan konflik, umat Kristiani dipanggil untuk berupaya dengan sabar guna memulihkan kerukunan dan harapan. Itu pesan Paus Fransiskus di hari Jumat, 27 Januari 2017, kepada para anggota Komisi Internasional Bersama untuk dialog teologis antara Gereja Katolik dan Gereja-Gereja Ortodoks Oriental.

Kelompok, yang mengadakan pertemuan di Vatikan pekan ini, termasuk perwakilan dari enam Gereja kuno dari Timur yang telah terpisah dari sisa-sisa dunia Kristen sejak pertengahan abad kelima.

Dalam sambutan kepada para pemimpin Katolik dan Ortodoks Oriental itu, Paus Fransiskus mengamati banyak dari mereka adalah anggota dari Gereja-Gereja yang sehari-hari menyaksikan meluasnya kekerasan dan “kebrutalan akibat tindakan ekstrimis fundamentalis.”

Kita sadar, kata Paus, “bahwa situasi penderitaan tragis seperti itu mudah berakar dalam konteks kemiskinan yang besar, ketidakadilan dan pengucilan sosial.”

Ini akibat ketidakstabilan, yang sering diciptakan oleh kepentingan asing, kata Paus, atau oleh konflik-konflik sebelumnya yang memudahkannya untuk memanipulasi dan menghasut orang untuk kebencian.

Paus mengatakan, umat Kristiani dipanggil untuk mendekati mereka yang menderita, untuk menabur kerukunan dan berupaya bersama dengan sabar untuk mengembalikan harapan dengan memberikan perdamaian menghibur yang berasal dari Tuhan.

Paus Fransiskus mengatakan, dia ikut berdoa bersama para pemimpin Gereja demi berakhirnya konflik dan demi kedekatan Allah dengan mereka yang telah banyak menderita, terutama anak-anak, orang sakit dan orang tua. Secara istimewa, Paus katakan bahwa dia “mencintai para uskup, imam, pria dan wanita hidup bakti, dan umat awam yang dengan kejam diculik, ditahan atau diperbudak.”

Para martir dan orang-orang kudus dari semua tradisi, kata Paus, bisa menginspirasi kita untuk mempercepat langkah menuju persatuan penuh. Di mana pun kekerasan melahirkan lebih banyak kekerasan, kata Paus, namun tanggapan kita hendaknya menghindari strategi-strategi kekuatan dan membawa perdamaian dan rekonsiliasi dari Kristus yang bangkit.(pcp berdasarkan Radio Vatikan)

Tinggalkan Pesan