Pastor Yohanes Hadi Suryono Pr potong tumpeng HUT ke-5 Paroki Alam Sutera didampingi  Kepala Badan Kesbangpolinmas Tangsel Azhar Syam'un R, Danramil 04/Serpong Mayor ARH Mulyadi, dan Sekretaris Forum Kerukunan Umat Beragama Kota Tangsel Fachrudin Zuhri
Pastor Yohanes Hadi Suryono Pr potong tumpeng HUT ke-5 Paroki Alam Sutera didampingi Kepala Badan Kesbangpolinmas Tangsel Azhar Syam’un R, Danramil 04/Serpong Mayor ARH Mulyadi, dan Sekretaris Forum Kerukunan Umat Beragama Kota Tangsel Fachrudin Zuhri

Sore hari itu, nampak orang-orang berpakaian polisi, tentara, kopiah, jilbab serta baju Muslim lainnya memasuki sebuah aula Paroki Santo Laurensius Alam Sutera di Kota Tangerang Selatan (Tangsel). Di aula itu mereka diterima oleh dua orang pastor dari paroki itu serta wakil-wakil umat, dan bernyanyilah  mereka bersama “Indonesia Tanah Airku, tanah tumpah darahku. Di sanalah aku berdiri, jadi pandu …”

Dan dengan kebaya merah, tiga wanita remaja menari Tari Cokek, khas Tangerang. Lebih jauh lagi, ketika hari sudah malam beberapa penampilan Qasidah oleh Ibu-Ibu Pengajian Al Ikhlas membahana di aula paroki, dilanjutkan lagu “Prayer” oleh Vinda dan Vincent, “Jereh Bu Guru” dan “Bunda” oleh Sherina, murid Muslim yang bersekolah di SD Katolik Tarakanita Gading Serpong, serta “Medley Gebyar-Gebyar” dan “Indonesia Jaya” oleh Maxi Kolbe Youth Choir dari sebuah lingkungan di Gading Serpong.

Malam hari ini kita berkumpul bersama karena kita saudara,” kata Kepala Paroki Alam Sutera Pastor Yohanes Hadi Suryono Pr kepada peserta dan undangan dalam Pesta Syukur Ulang Tahun V Paroki Alam Sutera bersama pemerintah dan aparat keamanan Kota Tangsel, 20 Januari 2017. Acara itu adalah bagian dari rangkaian HUT  paroki yang didahului dengan Misa, 15 Januari 2017, dan bakti sosial.

Sekretaris Forum Kerukunan Umat Beragama Kota Tangsel Fachrudin Zuhri, Kepala Subbagian Tata Usaha Kantor Kementerian Agama Kota Tangsel Yahya Iskandar, Kapolres Tangsel AKBP Ayi Supardan, Danramil 04/Serpong Mayor ARH Mulyadi, Kepala Badan Kesbangpolinmas Tangsel Azhar Syam’un R, tokoh-tokoh agama dan dewan masjid seputar gereja, guru-gurus serta Marawis Panti Asuhan Al Mukminin dan Panti Asuhan Masjid At Taqwa hadir pada acara itu.

Selama perjalanan lima tahun itu, jelas Pastor Hadi, umat Paroki Alam Sutera hadir di tengah masyarakat, dan Uskup Agung Jakarta Mgr Ignatius Suharyo mengajak umat Katolik bersama-sama menyadari bahwa mereka adalah anak-anak bangsa dan negeri ini.

“Maka tahun ini, uskup menekankan betapa penting mencintai negara dan bangsa ini dengan Pancasila dan UUD 45 sebagai dasar negara kita. Umat Katolik ada di negeri ini, maka mereka sedang dan akan mengamalkan Pancasila dan menjadi pribadi-pribadi yang adil dan beradab dalam kebersamaan di negeri ini, sebagai pengejawantahan sila kedua,” kata imam itu seraya menegaskan bahwa Gereja Katolik di Keuskupan Agung Jakarta terinspirasi dengan perkataan Mgr Albertus Soegijapranata SJ, “Kalau kamu menjadi orang Katolik, jadilah 100 persen orang Katolik dan 100 persen orang Indonesia.”

Ulang tahun itu juga merefleksikan bagaimana Gereja Katolik di Tangsel hadir dan berjalan bersama menjadi bagian dari seluruh komponen yang ada, termasuk kegiatan Gereja bersama masyarakat setempat, lewat presentasi berjudul “Jejak Langkah Paroki Santo Laurensius” yang dibawakan oleh Sekretaris Dewan Paroki Yohanes Bayu Samodro.

“Warna-warni kehidupan membuat hidup lebih indah,” kata Fachrudin Zuhri yang setuju dengan upaya paroki untuk mengamalkan Pancasila agar hidup adil dan beradab. Tapi, “jangan Pancasila hanya sebatas hiasan dinding dan tak mampu diartikulasikan dalam ucapan dan perbuatan,” kata Fachrudin seraya menambahkan bahwa kondusifitas territorial jadi tujuan utama.

Sayang sekali, Yahya Iskandar mengamati ada berita hangat memenuhi dunia maya saat ini. Berita itu, harapnya, tidak menjadi awal perpecahan dalam negara, tapi membiarkan perbedaan “menjadikan kita sesuatu yang berwarna-warni, Islam berjalan dengan keislamannya, Katolik berjalan dengan kekatolikannya, Protestan dengan keprotestannya dan sebagainya.”

Dia gambarkan semua itu sebagai menenun “membuat kain dengan benang berwarna-warni.” Kain bisa menjadi indah, tegasnya, manakala “ditenun oleh orang-orang berwarna-warni yang profesional,” kata Yahya seraya berharap masyarakat menghadapi persoalan dengan berpikir dewasa dan profesional. Bentrok tak diinginkan, karena Indonesia dibangun  dari keberagaman, katanya.

Maka, dia berharap “berat sama kita pikul, ringan sama kita jinjing,” karena negara lain angkat topi dengan keberagaman umat di Indonesia, dan ulang tahun itu menjadi wadah mempererat hubungan antaragama. “Ada saudara-saudara saya dari kaum muslimat yang datang kemari, ada pak haji. Ini menandakan bahwa kebhinekaan memang harus kita bangun, kita gali,” kata Yahya.

Walikota Airin Rachmi Diany berhalangan hadir. Namun dia berpesan melalui Azhar Syam’un R, agar ulang tahun itu tidak sekedar seremonial tapi benar-benar mampu memberikan efek positif bagi seluruh umat Katolik dan masyarakat sekitar, dan kemudian menciptakan kerukunan hidup beragama di Kota Tangsel, sesuai motonya ‘Cerdas, Modern dan Religius.’

Walikota juga berharap keberadaan paroki itu bisa mewarnai setiap kegiatan Tangsel, terutama dalam menciptakan rasa aman, rasa tenteram, keteduhan, karena kota itu rentan perpecahan. “Mari bersama-sama bergandengan tangan menciptakan Tangsel yang benar-benar aman sehingga kehidupan beragama dan bermasyarakat kita lebih baik,” ujar Azhar.

Pastor Hadi lalu memotong tumpeng dan memberikannya kepada para tamu, serta menyerahkan tanda kasih kepada Qasidah Al Ikhlas serta santunan dari paroki kepada Panti Asuhan Al Mukminin dan Panti Asuhan Masjid At Taqwa.

Harapannya, lanjut Yohanes Bayu, agar kehadiran paroki itu semakin dirasakan masyarakat, bukan sebagai kelompok eksklusif tetapi sesuai namanya katolik, adalah sesuatu yang umum, “maka kita ingin berbaur menjadi masyarakat yang luas, ‘100% Katolik, 100% Indonesia.’”

Selain kegiatan “Ayu Sekolah” yang pesertanya juga non-Katolik, paroki itu dikenal dan dicintai masyarakat karena aneka kegiatan antara lain pengobatan gratis dan peningkatan gizi serta donor darah dan sumbangan tak mengikat sebanyak tiga kali setahun di masa Natal, Paskah dan Pesta Nama, dan khusus tahun ini dalam rangka HUT paroki.

“Kaum miskin adalah harta Gereja,” itu memang spiritualitas Paroki Santo Laurensius Alam Sutera. (Soni Pati)

Para peserta dan undangan HUT ke-5 Paroki Alam Sutera
Para peserta dan undangan HUT ke-5 Paroki Alam Sutera
Qasidah oleh Ibu-Ibu Pengajian Al Ikhlas
Qasidah oleh Ibu-Ibu Pengajian Al Ikhlas
Maxi Kolbe Youth Choir dari SD Laurensia
Maxi Kolbe Youth Choir
Tari Cokek
Tari Cokek, tarian khas Tangerang

Ketua Panitia Yohanes Bayu SamodroSekretaris Dewan Paroki Yohanes Bayu Samodro

Marawis Panti Asuhan Al Mukminin
Sherina (seorang murid muslim dari SD Katolik Tarakanita Gading Serpong)
Sherina (seorang murid muslim dari SD Katolik Tarakanita Gading Serpong)
Panti Asuhan Masjid At Taqwa
Anak-anak warga Panti Asuhan Masjid At Taqwa
Yahya Iskandar
Yahya Iskandar
Foto Bersama
Foto Bersama

 

Tinggalkan Pesan