Sebagian anggota Anak Indonesia Katolik Australia (AIKA) Melbourne usai perayaan Natal 2016.
Sebagian anggota Anak Indonesia Katolik Australia (AIKA) Melbourne usai perayaan Natal 2016.

Untuk membina dan mengembangkan hubungan dengan akar budaya negeri asalnya Indonesia dan juga hubungan dengan Tuhan Yang Mahakuasa sesuai iman kepercayaan Katolik, anak-anak Katolik, dari orangtua yang berasal dari Indonesia namun lahir dan besar di Australia, membentuk perkumpulan yang disebut “Anak Indonesia Katolik Australia (AIKA).”

Perkumpulan yang dibentuk tahun 2013 di Melbourne dan telah berkembang ke beberapa kota di Australia itu adalah kelompok khusus beranggotakan anak-anak muda Katolik berusia 16 tahun ke atas yang lahir di Australia atau di Indonesia atau di negara lain tetapi tumbuh dan berkembang di Negeri Kanguru.

Menurut informasi, tujuan AIKA adalah mempererat persahabatan di antara mereka, yang mempunyai darah Indonesia atau yang orangtuanya berasal dari Indonesia dan mempunyai iman Katolik yang sama. Untuk itu, mereka melakukan berbagai kegiatan sosial maupun rohaniah dalam Bahasa Inggris untuk memudahkan mereka berinteraksi dengan para mahasiswa internasional Indonesia lain.

Lewat Facebook, AIKA berbagi informasi mengenai kegiatan mereka, termasuk pertemuan bulanan yang diselenggarakan di Melbourne. Pertemuan ini dijadwalkan minggu kedua dalam bulan, dan mencakup kegiatan sosial serta olah raga seperti bulutangkis, bowling, hiking, rock pooling, kuliner dan lain-lain.

Di bidang keagamaan mereka merayakan Misa, berdoa Rosario, rekoleksi dan pembahasan Kitab Suci di bawah bimbingan pastor atau frater. Baru-baru ini AIKA menyelenggarakan diskusi khusus mengenai devosi kepada Tuhan, bagaimana berkomunikasi secara intens dengan Tuhan serta pembinaan remaja seputar masalah sosial dan pendidikan sex.

Tahun 2016, AIKA melakukan sejumlah kegiatan pengumpulan dana yang kemudian digunakan untuk membiayai rekoleksi di bulan Agustus dengan tema “Generation Y” yang membahas pertanyaan dan keragu-raguan yang biasanya dialami kaum muda akan imannya kepada Tuhan, dan bagaimana hidup dan bertumbuh di dunia yang semakin sekuler. (Ans Gregory/ OZIP Des 2016).

Tinggalkan Pesan