Tokoh-tokoh agama termasuk Ketua KWI Mgr Suharyo saat membacakan Ikrar Ciganjur pada peringatan Haul Gus Dur ke-7. Foto Metrotvnews.com
Tokoh-tokoh agama termasuk Ketua KWI Mgr Suharyo saat membacakan Ikrar Ciganjur pada peringatan Haul Gus Dur ke-7. Foto Metrotvnews.com

Gus Dur mengajarkan banyak keutamaan dan kebenaran, kebaikan, yang menjadi dasar filosofi keberagamaan masyarakat Indonesia, kata seorang akademisi Universitas Islam Negeri Walisongo, dalam peringatan wafatnya (haul) KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Bangsa Indonesia harus bersyukur, tegas Ubaidillah Achmad yang akrab disapa Gus Ubaid, karena Gus Dur yang meninggal 7 tahun lalu itu telah merasuki jiwa kita dengan prinsip-prinsipnya yang “melampaui agama-agama yang ada di negeri ini, melampaui kebudayaan, melampaui kesadaran warga, melampaui kesadaran individu.”

Acara yang diadakan di Tugu Muda Semarang, 29 Desember 2016, oleh komunitas lintas iman Semarang dan warga yang tergabung dalam Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK) itu juga dihadiri tokoh agama lain termasuk Ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang (Komisi HAK KAS) Pastor Aloys Budi Purnomo Pr.

Gus Ubaid menegaskan, “Gus Dur benar-benar bisa menjadi jembatan kita untuk mempertemukan kesalahpahaman antaragama, mempertemukan kesalahpahaman, membuka hingga tidak terjadi kesalahpahaman antarbangsa, antarsuku, dan antarwarga negara.”

Maka dia berharap acara yang juga diikuti para mahasiswa itu bisa menyadarkan orang-orang yang melakukan konflik atas nama agama, mereka yang melakukan konflik atas nama kekuasaan, maupun mereka yang ingin membuat manajemen konflik atas nama kehendak kuasa.

Dia juga berharap agar masyarakat disadarkan bahwa agama dan budaya untuk mengawal prinsip keutamaan dan kebenaran. “Bukan untuk mengawal anarkisme, bukan untuk mengawal kebencian, bukan untuk mengawal kesalahpahaman, bukan untuk mengawal konflik, tapi untuk mengawal Indonesia, mengawal Negara Kesatuan Republik Indonesia, mengawal Pancasila,” tegasnya.

Dalam refleksinya, Pendeta Tjahjadi Nugroho berkisah tentang persahabatannya dengan Gus Dur selama 23 tahun sampai akhir hayatnya. “Malam ini, saya merasa gembira. Karena Gus Dur, satu orang, sekarang ini lahir ratusan ribu Gus Dur yang mengembangkan apinya, untuk mencintai Tuhan dengan  tulus, untuk mencintai bangsa dengan benar dan untuk menegakkan nilai-nilai kehidupan,” katanya.

Peringatan Haul Gus Dur diawali lagu Indonesia Raya dan dilanjutkan aksi jalan kaki mengitari Tugu Muda sambil menyanyikan lagu-lagu kebangsaan dan penyampaian refleksi dan doa bersama. Sejumlah orang muda seperti Fakih dari Lembaga Kajian Hukum Muamalah Universitas Wahid, Bakhtiar Haidar dan Lintang dari Perhimpunan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) turut memberikan refleksi melalui puisi. Ibu-ibu yang tergabung dalam JMPPK menyanyikan lagu yang bertemakan pelestarian alam.

Dalam orasi sebelum membacakan puisi, Pastor Aloys mengatakan, “Hadir di sini teman-teman yang sedang berjuang, pasti Gus Dur memberikan doa restu. Sahabat-sahabat, dulur-dulur dari Rembang yang berjuang untuk menegakkan keadilan, bukan demi diri sendiri, tetapi demi kelestarian keutuhan ciptaan dan kesejahteraan masa depan bangsa ini yang membutuhkan kesejahteraan pangan, air yang bersih, udara yang bersih dan segar yang menjadi penopang kehidupan kita.”

Sebelumnya, 23 Desember 2016, Pastor Aloys menghadiri peringatan yang sama dengan tema “Ngaji Gus Dur: Menebar Damai, Menuai Rahmat” yang dilaksanakan di rumah kediaman keluarga besar mendiang Gus Dur di Ciganjur, Jakarta Selatan.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) bersama sejumlah menterinya, Kapolri Tito Karnavian, Panglima TNI Gatot Nurmantyo, pasangan calon gubernur DKI Ahok-Djarot, dan sejumlah tokoh lintas agama, termasuk dari agama Katolik juga hadir. Selain Pastor Aloys, ada Julius Kardinal Darmaatdja SJ, Uskup Agung Jakarta dan Ketua Konferensi Waligereja Indonesia Mgr Ignasius Suharyo, Pastor Franz Magnis Suseno SJ, dan Pastor Benny Susetyo Pr.

Presiden Jokowi, satu-satunya presiden yang pernah menghadiri acara tahunan haul Gus Dur, menegaskan dalam dialog dengan hadirin bahwa negara ini bukan milik kelompok atau perorangan dan konstitusi harus dijunjung tinggi dan dihormati. “Sekarang ini tak jelas lagi, mana kritik mana hinaan, mana kritik mana hojat, mana kritik mana caci maki, mana kritik mana ujaran kebencian, mana kritik mana dendam, mana kritik mana hasutan,” kata presiden.

Deklarasi damai dengan tajuk “Ikrar Ciganjur” menjadi puncak acara itu. Perwakilan tokoh-tokoh agama yang hadir, termasuk Mgr Suharyo, membacakan dan ikut menandatangani teks deklarasi yang kemudian diserahkan oleh Yeni Wahid kepada Presiden Jokowi.

“Demi tegaknya harkat dan martabat manusia, terciptanya kehidupan yang lebih baik bagi generasi saat ini dan masa depan serta demi tegaknya kedaulatan dan keutuhan NKRI, kami umat beragama warga negara Indonesia berikrar: 1. Akan senantiasa menjaga kedamaian, kerukunan, persaudaraan / dan keadilan antar sesama umat beragama. 2. Menciptakan suasana sejuk, harmonis dan bebas konflik antar sesama ummat beragama. 3. Memelihara keberagaman dan perbedaan dengan saling melindungi berbagai agama dan keyakinan yang ada di Indonesia secara tulus dan sungguh-sungguh. 4. Menolak segala bentuk intimidasi dan pemaksaan agama/keyakinan serta menolak sikap anarkhi dan kekerasan dalam beragama. 5. Mendukung pemerintah untuk menegakkan konstitusi yang melindungi hak warga negara dalam menjalankan agama dan keyakinannya. Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa meridhoi dan melindungi kita semua.” (Lukas Awi Tristanto/paul c pati)

Tokoh-tokoh agama yang hadir dalam haul Gus Dur  ke-7 di Tugu Muda Semarang, 29 Desember 2016
Tokoh-tokoh agama yang hadir dalam haul Gus Dur ke-7 di Tugu Muda Semarang, 29 Desember 2016
Kaum muda dalam Haul Gus Dur ke-7 di Semarang
Kaum muda dalam Haul Gus Dur ke-7 di Semarang
Ikrar Ciganjur diterima oleh Presiden Jokowi. Foto oleh Liputan6.com
Ikrar Ciganjur diterima oleh Presiden Jokowi. Foto oleh Liputan6.com

 

Tinggalkan Pesan