mgr-ignatius-suharyo-natal-dan-fatwa

Di tengah fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) No 6 Tahun 2016 tanggal 14 Desember bahwa haram bagi umat Islam menggunakan atribut non-Muslim, Uskup Agung Jakarta yang juga Ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) Mgr Ignatius Suharyo menegaskan bahwa KWI tidak ingin masuk dalam diskusi mengenai fatwa MUI itu karena sangat rawan dan tidak ada manfaatnya.

Mgr Suharyo mengatakan hal itu dalam Konferensi Pers Pesan Natal di Gedung Karya Pastoral Katedral Jakarta, Minggu, 25 Desember 2016, untuk menanggapi sebuah pertanyaan wartawan tentang bagaimana sikap umat Katolik atau pemimpin umat Katolik terhadap isi fatwa MUI itu.

Selama ini umat Katolik seolah-olah ‘diam’ bukan karena tidak berpendapat, tegas uskup agung itu. “Bapak Kapolri mengatakan dengan tegas bahwa fatwa itu bukan suatu rujukan. Kita mesti membedakan bahwa negeri ini diatur berlandaskan konstitusi bukan hal-hal lainnya,” kata Mgr Suharyo.

Menanggapi pertanyaan tentang agenda Pilkada yang menimbulkan pembedaan antarsuku, agama serta golongan dalam masyarakat, Mgr Suharyo menegaskan bahwa semestinya tidak terjadi demikian, karena tiga peristiwa penting telah menyatukan bangsa Indonesia dari keragaman yang ada yakni Kebangkitan nasional di tahun 1908, Sumpah Pemuda tahun 1928, dan Proklamasi Kemerdekaan RI tahun 1945.

Dalam Gereja Katolik, lanjut Mgr Suharyo, rumusan liturgi bagi tanah air bukan hanya pada saat 17 Agustus “melainkan setiap Minggu, Gereja Katolik mendoakan bagi Tanah Air dan pemimpin negara ini. Ini membuktikan bahwa umat Katolik tidak rela bangsa ini dipecah-belah karena kepentingan tertentu, apalagi untuk kepentingan kelompok dan pribadi.”

Mgr Suharyo juga menjelaskan tentang Pesan Natal 2016 PGI dan KWI yang bertema “Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yakni Tuhan Yesus Kristus di kota Daud.” Yesus dilahirkan di Bethlehem, jelas uskup, sesungguhnya menampilkan kemuliaan Allah. “Orang kudus dalam Gereja Katolik menyebutkan makna kemuliaan Allah itu sesungguhnya adalah menjumpai manusia yang hidup. Maka seluruh umat Katolik diajak untuk terlibat mengamalkan Pancasila agar masyarakat makin adil dan makin beradab,” kata Mgr Suharyo.

Mgr Suharyo menyampaikan Pesan Natal 2016 didampingi Vikjen Pastor Samuel Pangestu Pr dan Pastor rekan Paroki Katedral Jakarta Pastor  Albertus Hani Rudi Hartoko SJ.(Konrad Mangu)

Tinggalkan Pesan