pergi-ke-mesir

HARI KE-4 OKTAF NATAL
Pesta Kanak-Kanak Suci (M)

Bacaan I: 1Yoh. 1:5─2:2

Mazmur: 124:2-3.4-5.7b-8; R:7a

Bacaan Injil: Mat. 2:13-18

Setelah orang-orang majus itu berangkat, tampaklah malaikat Tuhan kepada Yusuf dalam mimpi dan berkata: ”Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibu-Nya, larilah ke Mesir dan tinggallah di sana sampai Aku berfirman kepadamu, karena Herodes akan mencari Anak itu untuk membunuh Dia.” Maka Yusuf pun bangunlah, diambilnya Anak itu serta ibu-Nya malam itu juga, lalu menyingkir ke Mesir, dan tinggal di sana hingga Herodes mati. Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi: ”Dari Mesir Kupanggil Anak-Ku.” Ketika Herodes tahu, bahwa ia telah diperdayakan oleh orang-orang majus itu, ia sangat marah. Lalu ia menyuruh membunuh semua anak di Betlehem dan sekitarnya, yaitu anak-anak yang berumur dua tahun ke bawah, sesuai dengan waktu yang dapat diketahuinya dari orang-orang majus itu. Dengan demikian genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yeremia: ”Terdengarlah suara di Rama, tangis dan ratap yang amat sedih; Rahel menangisi anak-anaknya dan ia tidak mau dihibur, sebab mereka tidak ada lagi.”

Renungan

Allah adalah Terang dan Ia menghendaki semua manusia hidup dalam terang-Nya. Demikian ”tesis” iman yang dinyatakan oleh penulis surat Yohanes. Perjalanan manusia menuju terang tidak pernah mudah. Kekuatan kegelapan tidak pernah berhenti untuk menjauhkan manusia dari terang. Jalan masuk kepada kegelapan sering kali begitu sederhana dan tampak benar. Salah satunya adalah keinginan mempertahankan eksistensi diri. Herodes terganggu oleh berita tentang kelahiran Raja baru. Merasa terancam, ia mengusahakan segala upaya untuk mempertahankan eksistensi kekuasaannya. Kematian bayi-bayi di Betlehem menjadi tak terelakkan sebagai akibat fatal dari kehendak Herodes tersebut.

Dinamika mempertahankan eksistensi, pengaruh, kuasa, harta, kehormatan, sering kali membuat hati dan pikiran manusia menjadi gelap dan tak jarang mengorbankan orang lain menjadi terasa wajar. Mempertahankan gengsi, kenyamanan diri, kekuasaan dan kehormatan pribadi, tak jarang membuat orang kalap, lupa diri, lupa Tuhan, dan akhirnya banyak nyawa manusia yang tak bersalah menjadi korbannya. Sifat Herodes seperti ini ada baiknya kita singkirkan segera dari diri kita, agar hidup kita penuh kedamaian, dan darah orang yang tak bersalah tidak menjerit menghantui kita. Keterbukaan pada terang Allah dan keberanian untuk melangkah keluar dari kebutuhan-kebutuhan egosentris memberi kita jalan lapang menuju hidup dalam terang Allah.

Ya Tuhan, di dalam Engkau aku menemukan cahaya. Semoga jalan hidupku selalu diterangi oleh cahaya-Mu agar aku tidak berpusat pada diri sendiri dan biarlah hidupku  menjadi lentera sederhana yang memancarkan cahaya-Mu kepada dunia. Amin.

 

Tinggalkan Pesan