suore-africane-590x260

Seorang religius dari Kongregasi Para Suster Fransiskan dari Kristus Raja, Suster Clara Agano Kahambu telah tewas. Insiden itu terjadi pada sore hari tanggal 29 November 2016, di Paroki Mater Dei di Bukavu, ibukota Kivu Selatan di bagian timur Republik Demokratik Kongo.

Menurut sumber-sumber lokal dari Keuskupan Agung Bukavu, Suster Clara berada di kantornya bersama seorang pelajar, saat seorang pria datang menemui penjaga sekolah dengan mengatakan ia harus mendaftarkan putrinya di sekolah itu.

Ketika masuk, orang itu menjatuhkan dirinya pada biarawati itu sembari membunuhnya dengan pisau di lehernya. Pria itu ditangkap tetapi suster religius asal Kongo itu meninggal sebelum mencapai rumah sakit.

“Pendukung sejati hak asasi perempuan ini telah meninggal dunia pada usia 40 tahun … Dia ditambahkan dalam daftar panjang pembela hak asasi manusia yang meninggal di provinsi kami,” tulis sebuah pernyataan yang dikirim ke Agenzia Fides oleh Komisi Keadilan dan Perdamaian Keuskupan Agung Bukavu.

Pernyataan itu mencela memburuknya keamanan di Bukavu menjelang pemilihan umum nasional. Di kota yang penuh tentara dan polisi itu semakin banyak kekerasan dan serangan terhadap penduduk. Di sana berkeliaran individu-individu berbahaya dan bersenjata, beberapa di antara mereka sakit mental. Mereka menyerang orang-orang yang lewat di bawah “mata-mata penegakan hukum yang tersenyum.”

“Keadilan dan Perdamaian” mengingatkan kita bahwa “Uskup Agung sekali pun diserang di rumahnya saat tidur.”

Suster Clara Agano lahir tanggal 3 Juli 1976 di Paroki Luofu, Keuskupan Butembo-Beni, putri dari Jean-Pierre dan Anastasia Kahindo itu adalah anak kelima dari sepuluh bersaudara.

Tanggal 16 November 2000 di Bukavu ia menjadi anggota Kongregasi Suster Fransiskan Kristus Raja yang berbasis di Spalato, Dia memulai hidup sebagai postulan tanggal 5 Agustus 2001, sebagai novisiat tanggal 25 Agustus 2002 dan mengucapkan kaul kekal nya tanggal 2 Agustus 2010. Dia mengajar psikologi, pedagogi dan katekese. Dia adalah Kepala Sekolah Marie Madeleine di Bukavu dan kepala pusat pastoral “Mater Dei” tempat dia mengajar anak-anak perempuan yang miskin untuk membaca dan menulis. (pcp berdasarkan Agenzia Fides)

Tinggalkan Pesan