20161126_200040

Orang Muda Katolik (OMK) Paroki Kristus Raja Ungaran kembali berkreasi di pelataran gerejanya. “Malam API” (Malam Apresiasi Seni) itu melibatkan berbagai unsur komunitas mulai dari Sekolah Minggu, Misdinar, Orang Muda, Anak Asrama Santo Thomas, SMK Kanisius Ungaran, OMK Karangpanas dan Katedral, hingga Ambarawa, Tanah Mas dan perwakilan sekolah negeri di Ungaran.

Malam apresiasi seni itu juga berwarna lintas agama sebab hadir dan terlibat juga orang-orang muda dari Masjid Roudhotul Mustaqim Kauman Ungaran, GKJ Ungaran dan GKJ Banyumanik. Ikut serta pula berbagai komunitas musik orang muda yakni Ryan Band, CHS Band dan Musik Klontang Christ Rex.

Kreasi seni tanggal 26 November 2016 itu ditampilkan dengan tarian, nyanyian maupun pentas musik akustik dan band. Kreativitas juga diekspresikan melalui dialog kocak yang dipandu Bolang yang biasa tampil dalam stand up comedy.

Sebelum menyalakan api bambu, Kepala Paroki Ungaran Pastor Yakobus Sudarmadi Pr mengatakan dalam sambutannya, “Allah menciptakan kita dengan citra seni yang istimewa. Semoga dengan malam apresiasi seni ini, kita dapat memuji dan memuliakan Tuhan.”

Pastor Aloys Budi Purnomo Pr dari Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang mengatakan, “Kita bersyukur bahwa anak-anak muda mencintai kesenian dan kebudayaan sebagai bagian dari ekspresi iman … Malam ini di Ungaran kita adakan Malam Apresiasi Seni dengan penampilan kreativitas dari berbagai kelompok. Semoga menumbuhkan semangat kasih persaudaraan satu terhadap yang lain.”

Pastor Budi Purnomo mengamati bahwa malam apresiasi seni yang melibatkan banyak unsur itu menjadi jawaban atas kerinduan untuk saling kenal antarorang muda. Di sela-sela penampilan musik dan tari, juga diadakan permainan, yang dipandu oleh Adel dan Bolang.

Permainan-permainan di halaman Gereja Kristus Raja Ungaran, yang menjadi ruang dan saksi kreativitas orang muda lintas agama dan saling kenal akrab di antara mereka serta tekad mereka untuk menjadi tanda damai sejahtera bagi sesama dalam keberagaman, kata imam itu, “menciptakan keakraban di antara peserta yang belum saling kenal.”

Acara ditutup dengan menerbangkan 25 lampion persaudaraan dan persahabatan secara berkelompok di halaman parkir gereja. Sesudah acara ditutup para peserta langsung membereskan dan membersihkan tempat bersama-sama.(pcp berdasarkan laporan dari Pastor Aloys Budi Purnomo Pr)

Tinggalkan Pesan