panahan

Sebentar lagi Natal akan tiba. Selain bergiat dalam pertemuan umat Masa Adven, Panitia Natal yang diangkat oleh Dewan Pastoral Paroki berupaya mencari dana demi meriahnya Misa dan Pesta Natal Paroki. Tidak sedikit kebutuhan dan kegiatan yang pasti membebankan umat maupun keuangan paroki. Paroki di perkotaan mudah mencari dana melalui donatur atau partisipasi umat dibandingkan umat di pedalaman atau di pedesaan. Salah satu terobosan unik dan kontekstual sesuai budaya dan tata hidup masyarakat setempat dilaksanakan di Paroki Santo Yohanes Pemandi Wahgete, Keuskupan Timika, Papua Barat. Di sana Panitia Natal mencari dana  dengan mengadalan perlombaan panahan tradisional atau dalam bahasa setempat disebut mapeda wagido. Peserta yang berhasil memanah tepat di tengah papan panahan mendapatkan hadiah seekor babi, demikian penjelasan Melianus Mote. Peserta yang membayar 5000 rupiah, jelas anggota panitia itu, akan mendapatkan dua anak panah. Perlombaan sudah dimulai. Banyak lelaki dari Suku Mee nampak mengikuti perlombaan yang dilaksanakan di lapangan gereja setiap sore pukul 4 hingga 6 sore. Memang, bagi umat Paroki Wahgete yang mayoritas Suku Mee, perlombaan itu merupakan hiburan, olahraga serta pelestarian budaya leluhur nenek moyang yang dulu menggunakan panahan untuk berburu hewan dan perang.  Menurut Titus Mote, seorang peserta, “saya ikut lomba panahan itu sebagai salah satu bentuk hiburan, hobi dan pelestarian budaya nenek moyang. Ini kearifan lokal yang sudah ditinggalkan oleh generasi sekarang, karena modernisasi.” (Vincent Budi)

panahan2

panahan1

panahan3

Tinggalkan Pesan