kades

Pastor Albertus Sujoko MSC

Sudah empat hari ini saya ada di desa, di antara sawah-sawah yang sedang menghijau dengan tanaman padi berumur tiga minggu. Dan saya membaca di detikNews, Bupati Purwakarta Dedy Mulyadi yang terkenal kreatif melantik enam kepala desa di tengah sawah pada malam hari. Walaupun demikian, ia mempertahankan suasana khidmat dari pelantikan itu dengan penataan sekitar tempat pelantikan juga dibuat menarik.

Mengapa ia melantik kepada desa di tengah sawah? Karena desa-desa di Indonesia hidup dari tradisi bertani. Namun demikian Indonesia masih mengalami krisis pangan, terlebih beras. Ia mengatakan bahwa tahun depan desanya sudah akan berbasis IT. Namun apa yang akan di IT-kan? Ia akan membranding suasana desa- desa, produk-produk pertanian, bahkan pelantikan kepada desa dikemas dalam acara yang lebih menarik dan diposting di IT itu,supaya turis datang melihat di desa itu. Sehingga ada tambahan pemasukan bagi desa itu dengan kegiatan wisata desa.

Selama saya di desa ini, saya berbicara dengan para petani. Mereka bertani padi dan banyak musuhnya. Tanaman padi pagi ditanam, malam harinya sudah dimakan keong, itu siput sawah yang muncul begitu banyak dan memakan habis tanaman padi. Petani harus menanam lagi, tetapi benihnya harus membeli dan mahal. Belum panen sudah rugi. Hama lain yang menyusul adalah tikus. Tikus juga memakan batang-batang padi yang masih muda dan mungkin terasa manis di mulut tikus-tikus jahat itu. Hama ketiga yang membuat saya heran adalah air. Kalau hujan terlalu banyak dan sawah menjadi banjir, maka air yang kena matahari membuat tanaman padi yang masih muda juga layu kena air yang panas.

Jadi musuh petani di awal tanam adalah siput, tikus, dan air. Belum lagi hama lain seperti “hama wereng” dan “walang sangit” yang membuat tanaman padi umur berapa pun bisa mati dan petani gagal panen.

Sungguh terasa ironis bahwa air juga bisa menjadi hama sampai para petani mengatakan, “tanaman padi sekarang dimakan siput, tikus dan air.” Air yang sangat dibutuhkan untuk tanaman padi menjadi musuh kalau terlalu banyak.

Saya pernah membaca buku tentang kehidupan petani di Asia tenggara yang kebanyakan bertani hanya dalam taraf bisa makan; bukan untuk industri bahan makanan dan hidup sejahtera. Petani umumnya hanya bisa bertahan hidup, dan kalau gagal panen maka harus hutang supaya bisa makan.

Bantuan 1 milyar tiap desa sangat dibutuhkan oleh petani untuk membuat saluran irigasi supaya aliran air bisa terjamin. Saya melihat bahwa saluran irigasi itu sudah diperbaiki di mana-mana dengan beton sehingga air mengalir lancar, dan kalau banjir pun air bisa dibuang dengan lancar.

Keuntungan di desa adalah suasana yang damai dan hening, jauh dari bunyi kendaraan bermotor dan jauh dari kasus demo Ahok dan saling memaki di medsos. Walaupun orang desa juga menonton TV dan banyak tahu yang terjadi di Jakarta, tetapi kalau mereka sudah masuk ke sawah, maka yang dominan adalah konsentrasi dengan kerja tangan mengolah sawah.

Hiruk pikuk politik yang ingin makar, menjatuhkan presiden dan demo-demo jauh dari realitas hidup mereka di desa-desa. Orang-orang desa mata pencahariannya memproduksi beras supaya rakyat bisa makan. Orang yang suka demo di Jakarta itu mata pencahariaannya dengan membuat kacau supaya ada pemasukan. Petani membuat perut kenyang karena bisa makan; pendemo menyebarkan kecemasan dan kekuatiran di mana-mana.

 

Tinggalkan Pesan