img_6622

Sejumlah anak muda dan tokoh agama dari organisasi yang peduli pada gerakan perdamaian di Semarang berziarah ke makam Kiai Haji Soleh Darat di Taman Makam Bergota dan ke makam Mgr Soegijapranata di Taman Makam Pahlawan, Semarang, 17 November 2016.

Ziarah ke makam, yang dilaksanakan Jaringan Masyarakat Semarang untuk Keberagaman, Komunitas Lintas Agama dan Iman, serta Komunitas-Komunitas Kampus Kota Semarang itu, merupakan salah satu kegiatan dari peringatan Hari Toleransi Internasional yang berlangsung 17-19 November 2016. Di makam Kiai Haji Soleh Darat mereka berdoa untuk memohon perdamaian dan persaudaraan bagi Indonesia.

Kiai Haji Soleh Darat adalah tokoh Islam yang disegani banyak orang. Beberapa santrinya adalah tokoh-tokoh nasional seperti KH Hasyim Asy’ari dan KH Ahmad Dahlan. RA Kartini pun menjadi muridnya.

Setelah itu mereka pergi ke Taman Makam Pahlawan Giri Tunggal untuk berziarah di makam uskup agung Semarang yang pertama, Mgr Albertus Soegijapranta SJ. Di makan itu, Ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang (Komisi HAK KAS) Pastor Aloys Budi Purnomo Pr menjelaskan bahwa Mgr Soegijapranata adalah pahlawan nasional yang diangkat pada era Presiden Soekarno.

Ditegaskan, Soegija sangat gigih memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dan terkenal dengan semboyan ‘Seratus Persen Katolik, Seratus Persen Indonesia’. Menurut Pastor Budi, itu relevan dengan agama-agama lain, misalnya mengganti kata Katolik dengan agama lain. “Dengan demikian agama-agama juga memiliki semangat yang sama dalam membangun semangat kebangsaan,” kata imam itu.

Pastor Budi juga menjelaskan bahwa dalam agama Katolik ada tradisi bahwa tanggal 2 November merupakan waktu khusus untuk berdoa bagi para arwah semua orang beriman, bahkan sepanjang bulan November.

Usai ziarah, yang dimaksudkan untuk menimba semangat perjuangan dan meneladan para tokoh terkait dengan semangat kebangsaan, para peserta melakukan sharing yang dipandu oleh Yunanto Adi.

Subhan, aktivis Gusdurian kota Semarang, mengapresiasi acara yang melibatkan berbagai kelompok agama itu. “Perbedaan semestinya tidak menjadi masalah,” tegasnya. Menurut M Bilal, aktivis GMNI Komisariat Wahid Hasyim, nasionalisme bisa merangkul yang berbeda-beda untuk bersatu membangun persaudaraan. Kiai Abi Rozak, yang mengasuh pondok pesantren di Gunungpati mengatakan, orang akan mempunyai toleransi dengan yang berbeda ketika dia dekat dengan Tuhan. Sedangkan Bayu Tunggul dari EIN Institute mengatakan, upaya membangun gerakan plural mesti terus dilakukan.

Acara itu diikuti sejumlah organisasi seperti Pelita, PMII Kota Semarang, LBH Semarang, Komunitas Payung Undip, IMM Undip, BEM KM Unnes dan Perhimpunan Mahasiswa Hukum Kota Semarang. (Lukas Awi Tristanto)

img_6612

 

img_6604

1 komentar

  1. Sangat positif sekali ya aktivitasnya, mudah-mudahan bisa menjadi inspirasi dan motivasi buat anak muda lainnya nih untuk lebih menghargai dan menghormati jasa-jasa para pahlawan dan tokoh nasional. :twothumbsup buat kalian

Tinggalkan Pesan